Jejak kaki mereka di atas tumpukkan salju

menghilang begitu saja tertutupi hujan salju yang lebat. Dinginnya salju menembus hingga ke tulang Hasuko dan Nanashi. Hasuko tiba-tiba terjatuh, meninggalkan suara yang cukup keras hingga Nanashi melihat ke belakang.

“Sepertinya masih jauh, Nanashi. Aku tidak kuat lagi..”

lirih Hasuko.

“Memang sudah seharian kita berjalan. Lagipula matahari sudah mau terbenam. Kita harus mencari gua untuk-“

Sebelum Nanashi melanjutkan kalimatnya, Hasuko sudah terbaring pingsan. Sepertinya pakaian tebal yang terbuat dari kulit binatang tak mampu menahan dingin yang sudah menembus tulang. Nanashi menggendong Hasuko untuk mencari gua dan beristirahat. Tubuh Hasuko sudah dingin sekali, mulutnya menggigil. Nanashi hanya bisa mempercepat langkahnya untuk mencari gua sebelum terjadi sesuatu pada mereka berdua.

“Sudah bangun?”

tanya Nanashi kepada Hasuko yang sudah bangun.

“Tadi kamu pingsan,” lanjut Nanashi. “Badanmu dingin sekali, makanya aku buru-buru untuk mencari sebuah gua. Untung saja ketemu.”

Hangatnya api unggun membuat Hasuko nyaman beristirahat. Nanashi kemudian memberikan minuman hangat kepada Hasuko untuk menghangatkan badan, serta mulai memasak daging yang Nanashi buru saat perjalanan hari ini. Hasuko memegang erat gelas minumannya, menghangatkan tangannya.

“Nanashi..”

panggil Hasuko dengan suara lirih dan wajahnya yang memerah.

“Terimakasih ya.”

Nanashi hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya, seraya sibuk menyiapkan makanan untuk malam hari. Nanashi langung mengatakan kepada Hasuko untuk meminum air hangatnya. Seteguk ia minum, badannya hangat kembali.

“Hei, Nanashi.”

“Iya?”

Hasuko menghela nafas, berniat untuk mengatakan sesuatu kepada Nanashi. Nanashi berbalik badan menghadap Hasuko, siap untuk mendengarkan apapun yang ia akan ceritakan.

“Suatu malam, waktu aku masih kecil, aku pernah sengaja kabur dari desa. Waktu itu aku penasaran akan kehidupan di luar dan juga aku sudah lelah dengan kehidupan yang datar seperti itu. Aku hanya membawa beberapa helai pakaian dan buah-buahan yang sudah dikeringkan untuk bekal di luar. Aku lari dari desa, berharap meninggalkan semua itu.”

Mata Hasuko mulai mengeluarkan air mata, sebab ini pertama kalinya ia menceritakan sesuatu kepada seseorang. Nanashi paham suasananya. Ia hanya mendengarkan Hasuko bercerita, tak bermaksud untuk mengganggu curahan hati Hasuko.

“Kemudian aku berhasil lari dari desa, menuju sebuah hutan tak jauh dari situ. Karena sudah malam, aku membuat api unggun kecil untuk teman istirahat. Aku berniat untuk makan waktu itu. Namun ada angin kencang yang meniup apinya hingga mati. Aku takut sekali. Aku bersandar di sebuah pohon dan memegangi tasku. Seekor serigala tiba-tiba saja ada di depanku untuk memakanku. Aku masih ingat betapa mengerikannya serigala itu. Aku menangis. Serigala tersebut menikamku dari depan. Saking ketakutannya, aku tak sadarkan diri. Aku kehilangan harapan seketika.”

“Lalu.. bagaimana?”

tanya Nanashi.

“Lalu.. aku bangun di kuil desa. Orang-orang desa sudah menunggu di luar, bersorak atas keselamatanku. Namun aku mendengar bisikan orang bahwa ada yang terluka setelah melindungiku. Sejak itu aku merasa aku tiada guna, yang ada hanyalah menyakiti orang lain. Makanya tadi saat aku pingsan saat perjalanan, aku sudah berharap akan-“

“Cukup, Hasuko. Aku tahu maksudmu,”

henti Nanashi sebelum Hasuko menyelesaikan kalimatnya.

“Tapi..”

“Hasuko, aku yakin kamu merasa bersalah atas kejadian itu. Tapi ketahuilah bahwa mereka memang berniat untuk menyelamatkanmu. Aku juga begitu, Hasuko. Aku menyelamatkanmu karena aku dan kamu sama-sama manusia.”

Mereka berhenti berkata sementara. Hanya suara api unggunlah yang mengisi kekosongan itu. Hasuko kali ini benar-benar menangis. Air matanya bercucuran tak kuasa menahan luapan perasaan yang ada di dalam hatinya. Dalam kesedihannya, Nanashi mendekati Hasuko kemudian memeluknya.

“Tidak apa-apa kalau kamu menangis. Ada aku di sini.”

Mereka berdua bangun dan bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan. Saat mereka akan berangkat, Hasuko berlari ke depan Nanashi. Dengan senyumnya yang manis, ia berkata,

“Terimakasih, Nanashi!”

Sesampainya mereka di kuil tempat singgah Genbu, mereka hanya melihat kuil tua yang sudah penuh dengan debu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat ini. Mereka bingung harus bagaimana.

“Hasuko, kamu tahu setelah ini kita harus bagaimana?”

“Aku tidak tahu. Mungkin kita harus-“

Tiba-tiba kabut menyelimuti seluruh kuil. Mereka kaget dan berdiri bersender pada punggung masing-masing. Tak lama, terdengar suara yang amat keras berbicara kepada mereka.

“Aku tahu kalian akan datang kemarin untuk menemuiku.”

Sedikit demi sedikit, kabutpun hilang menampakkan sosok yang berbicara pada Nanashi dan Hasuko.
“Aku adalah yang kalian sebut sebagai Genbu. Ya, aku penjaga Hoppou. Sebelumnya selamat datang kemari dan maaf kuilnya terlihat sepi begini.”
“I-itu Genbu?” tanya Nanashi.
“Kalian kaget dengan wujudku yang menyerupai kura-kura ini?”
Hasuko dan Nanashi hanya terdiam dan membisu, tidak bisa membalas pertanyaan Genbu.
“Yasudah. Aku sudah mengenal kalian. Kamu, yang laki-laki, bernama Nanashi; dan kamu yang perempuan pasti Hasuko. Kalian kemari untuk mencari jati diri Nanashi, bukan?”
“Aku adalah salah satu yang memegang sifat utama manusia,” lanjut Genbu. “Yaitu keramahan.”
Genbu kemudian menjelaskan bahwa kuil ini sudah lama ditinggalkan sebab para penduduknya sudah bermigrasi ke daerah lain. Migrasi itu karena iklim Hoppou yang sudah tidak cocok untuk manusia yang hendak tinggal di Hoppou. Genbu merasa sedikit kecewa karena tidak ada yang datang mengunjunginya seperti biasanya.
“Oh iya. Aku lihat kemarin kamu membantu Hasuko ya?”
“Iya, betul. Memangnya kenapa? Ada yang salah?” jawab Nanashi.
Muka Hasuko memerah karena malu. Genbu hanya tertawa melihatnya, sedang Nanashi bingung mengapa mereka berdua begitu.
“Kamu ingat kan bahwa aku perwujudan sifat keramahan? Apa yang kamu lakukan kemarin adalah sebuah tindak yang baik, bahkan untuk seorang manusia. Manusia, jika dalam situasi seperti itu, biasanya akan percaya dengan insting mereka dan menyelamatkan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Kamu tidak begitu. Kamu malah menolong Hasuko dengan ketulusan hati. Aku terkesan.”
Dari tangan Genbu kemudian muncul sesuatu. Hasuko dan Nanashi bertanya mengenai sesuatu yang dipegang oleh Genbu.
“Oh ini? Ini adalah Jinsei yang akan kuberikan pada Nanashi karena kamu sudah melakukan sesuatu yang membuatku terkesan. Jinsei sendiri adalah inti dari kehidupan manusia. Ah iya, di dalamnya kuberi sedikit hadiah yang mungkin bisa membantu kalian dalam perjalanannya.”
Badan Nanashi menjadi terasa berbeda saat Genbu memberikan Jinseinya. Nanashi juga mulai merasa ada perbedaan pada dirinya. Genbu hanya mengatakan bahwa mereka akan tahu nanti saat waktunya tiba. Mereka pamit dan melanjutkan perjalanan ke barat menuju Seiho.
Tak lama setelah mereka turun dari lembah bersalju, mereka melihat ada seseorang yang roda gerobaknya terjebak salju. Mereka berniat untuk menawarkan bantuan untuk mengangkatnya. Namun, tiba-tiba ada sekelompok perampok yang menjebak mereka di balik tumpukkan salju. Hasuko panik, menanyakan apa yang seharusnya mereka lakukan kepada Nanashi.
Nanashi, melalui nalurinya, melakukan sesuatu yang membuat Hasuko kaget dan teringat pada ucapan Genbu sebelumnya.
Nanashi memutar kedua lengannya hingga membentuk lingkaran, mengeluarkan semburan badai salju kepada perompak tersebut. Perompak tersebut terpental jauh.
“Nanashi, barusan..”
“Aku sendiri tidak tahu, Hasuko. Tiba-tiba saja aku berpikir untuk melakukan tadi.”
Mereka berdua beranggapan bahwa itulah yang dimaksud Genbu. Hasuko mulai menganggap bahwa Nanashi bukanlah seorang manusia biasa, namun seorang yang dianugerahi oleh kahyangan.
“Nanashi, mungkin ada benarnya kita melanjutkan perjalanan ini. Sepertinya kamu memang dianugerahi oleh Kahyangan.”
Mendengar itu, Nanashi kaget. Ia merasa tidak siap jika dia diberi anugerah seperti itu, sebab itu tandanya ia memiliki tanggung jawab yang besar.
“Nanashi, aku tahu kamu sedang bingung sekarang. Tapi tenang, ada aku di sini menemanimu.”
Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju daerah hutan Seiho di barat. Sesampainya mereka di Seiho, mereka dikelilingi oleh hutan lebat. Lelah karena perjalanan, mereka memutuskan untuk menginap di desa terdekat. Mereka diperbolehkan untuk menginap, namun harus menemui kepala desa.
“Selamat datang di Seiho. Tumben sekali ada pengelana kemari. Ada keperluan apa kemari?” tanya kepala desa.
“Kami berkelana untuk menemui empat penjaga arah mata angin. Ada yang perlu kami lakukan bersama mereka.” jawab Hasuko.
“Baiklah kalau begitu. Kalian boleh menginap. Ngomong-ngomong, kamu Miko yang berasal dari Desa Bunga Teratai, bukan?”
Hasuko hanya menangguk. Ia masih tidak begitu senang dipanggil sebagai seorang Miko. Nanashi yang paham raut muka Hasuko, langsung memotong pembicaraan mereka dan meminta kepala desa untuk mengantarkan mereka menuju penginapan.
Hasuko sudah terlalu lelah dari perjalanan. Ia meminta supaya Nanashi pergi menuju kuil Byakko mendahuluinya. Nanashi meminta supaya mereka bisa datang besok saja sambil menunggu Hasuko. Namun Hasuko memaksanya, sebab ia merasakan firasat buruk.
Nanashi akhirnya menemui Byakko, penjaga bagian barat. Kuil bagian luarnya terlihat ramai, namun di dalamnya kosong. Hanya yang memiliki keperluan saja yang diperbolehkan masuk. Nanashi menceritakan kondisinya kepada penjaga kuil dan mengatakan bahwa kepala desa sudah mengijinkannya masuk. Nanashi kemudian diperbolehkan masuk ke dalam kuilnya.
Nanashi merasakan perbedaan antara kuil Genbu dan Byakko. Bila kuil Genbu terlihat usang dan berdebu, kuil Byakko terlihat bahwa telah dirawat sejak lama. Ia kemudian memanggil nama Byakko berkali-kali, namun tidak dijawab.
“Apa mungkin butuh bantuan Hasuko untuk ini ya?”
“Tidak perlu. Aku tahu kau akan datang. Tanpa seorang Miko-pun, aku akan menerima tamuku. Terlebih jika itu kamu.” jawab Byakko tiba-tiba.
Nanashi kaget mendengar jawaban Byakko yang tiba-tiba. Ia melihat sesosok harimau putih yang besar dan memiliki taring yang tajam. Nanashi diam seribu bahasa, takut melihat Byakko yang memiliki penampilan seperti itu.
“Aku tahu tujuanmu kemari. Untuk mencari jati diri, bukan? Seperti yang kamu ketahui, aku mewakili sifat keberanian. Namun aku tak bisa memberikanmu Jinsei yang kamu butuhkan.”
“Mengapa begitu, Byakko?”
“Kau akan tahu alasannya nanti. Aku hanya khawatir kalau kamu, dari semua orang, akan menyalahgunakan kekuatan itu. Kekuatan merupakan sesuatu yang akan membantu melindungi kalian, maupun menghancurkan kalian oleh tangan kalian sendiri. Untuk melindungi, kamu membutuhkan keberanian. Untuk menghancurkan, kamu hanya membutuhkan ketakutan.”
Nanashi keluar dengan raut muka kecewa. Ia terhalang untuk mencari jati dirinya. Tiba-tiba saja di luar terlihat ramai orang berlalu-lalang. Mereka seperti ketakutan, berlari dari sesuatu. Nanashi, khawatir akan Hasuko dan orang-orang yang tinggal di desa, berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan mereka.
“Ashura!” teriak penduduk yang berlari.
Ia melihat desa yang sedang dilalap api. Jalanan penuh dengan makhluk-makhluk buas yang terlihat tidak berasal dari Bumi. Mereka terlihat menyeramkan. Nanashi berlari menemui Hasuko yang sedang melindungi penduduk dengan obor api.
Nanashi sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu. Ia memaksakan untuk menyelamatkan Hasuko. Namun naluri badannya tidak bisa bergerak, ia takut. Seketika ia melihat dari kejauhan kalau Byakko sedang memperhatikannya. Ia mengingat perkataan Byakko mengenai melindungi dan menghancurkan. Akhirnya ia berlari menuju Hasuko untuk melindunginya, mengetahui bahwa nyawanya akan ada dalam bahaya.
Waktupun berhenti. Ia melihat di sekelilingnya terdiam, termasuk makhluk yang menyerang Hasuko. Byakko kemudian mendekati Nanashi.
“Kamu berani untuk menyelamatkannya, walaupun kamu mengetahui bahwa nyawamu terancam. Aku berikan Jinsei kepadamu untuk membantumu menyelamatkan mereka. Semoga apa yang kau cari akan ketemu. Sampai jumpa.”
Ia merasakan badannya mulai bisa bergerak. Ia berlari menuju Hasuko dan mulai mengalahkan makhluk-makhluk tersebut.
Ia berteriak dan mengeluarkan lingkar yang menghabisi seluruh musuhnya. Makhluk-makhluk tersebut hangus terkena lingkar tersebut, menyelamatkan Hasuko dan penduduk desa. Namun sudah terlambat. Kuil dan desanya sudah hangus terbakar api. Kepala desa mengumpulkan penduduk yang masih tersisa. Nanashi kemudian maju ke depan dan menghadap mereka.
“Aku tahu kalian baru saja kehilangan desa dan kuil kalian yang telah berdiri sejak lama. Kalian pasti kehilangan itu semua. Namun ada satu hal yang membuatku sadar bahwa ada hal yang lebih penting daripada ini semua, dan kalian harus tahu hal itu. Aku telah mengunjungi Byakko. Aku sadar bahwa ketakutan akan membawa pada kehancuran, dan keberanianlah yang akan melindungi kalian. Makhluk-makhluk buas itu sudah menghancurkan segala yang kalian punya. Maka sekaranglah saatnya untuk memberanikan diri dan melindungi masa depan kalian!”
Sorak-sorak semangat mengisi malam yang menyedihkan itu. Penduduk Seiho bersemangat untuk berperang melawan kekuatan jahat yang mengancam perdamaian. Kepala desa Seiho kemudian mengumpulkan penduduk untuk mengungsi ke sebuah tempat dan bersiap untuk perang. Nanashi dan Hasuko pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju pegunungan Touhou timur.
“Kamu tahu, Nanashi? Kamu terlihat keren sekali tadi.”
“Terimakasih. Semua berkat kamu juga. Kamu yang sudah menemaniku mencari jati diriku.”
Hasuko malu, mukanya memerah. Ia tersipu malu mendengar pujian yang diberikan oleh Nanashi. Hasuko kemudian menjelaskan bahwa makhluk tersebut dikirim oleh Ashura, pemimpin para penghancur dunia, untuk menyebar kekacauan. Nanashi mulai sadar bahwa kekuatannya mesti digunakan untuk menyelamatkan dunia dari Ashura.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *