Udara dinign menyambut pagi Hasuko dan Nanashi.

Penginapan mereka di kuil biarawan di Touhou memang menjadi yang paling nyaman selama perjalanan mereka. Mereka disuguhkan berbagai macam makanan khas Touhou yang memiliki cita rasa yang menghangatkan.

Kamu tahu? Kalau begini terus aku bisa lebih betah di sini daripada di rumah.

puji Hasuko sambil memakan banyak makanan yang disuguhkan.

Jangan makan banyak-banyak, nanti kam- eh?

Hasuko terlalu kenyang. Perutnya terlalu berisi hingga tidak bisa bergerak. Dia hanya ingin tidur saja sambil bermalas malasan.

Tunggu sebentar dong, aku ingin menunggu makanannya turun dulu.

Mereka akhirnya beristirahat hingga tengah hari, kemudian menemui kepala biarawan Touhou. Katanya, untuk menemui Touhou, mereka harus melewat Gua Takdir yang di dalamnya memiliki kekuatan mistis. Gua itu dipercayai dapat mencerminkan diri mereka, baik dari ketakutan, harapan, hingga takdir mereka. Mereka akhirnya pergi ke dalam bersama.
Guanya penuh dengan tumbuhan yang menjalar. Di dalamnya dingin sekali. Mereka berdua mendengar suara bisikan-bisikan yang mengerikan. Namun mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju kuil Seiryuu. Kemudian mereka menemui dua jalan yang berpisah.

Hasuko, kamu mau pilih jalan yang mana?

Aku yang kanan saja. Mudah-mudahan nanti jalannya ketemu lagi.

Mereka berdua berpisah mengambil jalan yang berbeda. Hasuko mengambil jalur kanan, sedangkan Nanashi mengambil jalur kiri.
Tak lama kemudian, Nanashi merasa ada di dalam perpustakaan yang memiliki banyak buku. Ia mencoba membaca satu-persatu buku yang berada di dalam rak, namun yang hanya ia temui hanyalah lembaran kertas kosong. Semua bukunya berisi demikian, tak ada yang terisi. Ia bingung harus bagaimana.
Hasuko sendiri berada di sebuah panggung. Ia kemudian dihampiri oleh banyak orang yang menawarkan peran dan kostum untuknya. Kemudian dicobanya pakaian tersebut satu-persatu. Namun ia merasa bahwa pakaian tersebut tak ada yang cocok.
Keduanya kemudian berpikir mengenai dirinya masing-masing. Apa yang sebetulnya mereka inginkan dan apa yang sebetulnya mereka butuhkan. Perjalanan ini bertujuan untuk menemukan diri sendiri. Namun bilamana tidak ada yang ditemukan selama perjalanan hingga tujuannya, lalu mereka beranggapan bahwa perjalanan mereka sia-sia. Mereka mungkin memiliki tujuan, namun mereka pada akhirnya sadar bahwa mereka juga harus memikirkan mengenai mereka sendiri.
Nanashi kemudian melihat gelang yang ada pada tangannya. Ia ingat bahwa itulah ingatan pertama sejak ia berada di dunia. Ia juga ingat bagaimana kenangan yang ia buat bersama Hasuko menjadi yang terindah selama ini. Ia akhirnya memutuskan untuk menulis kenangannya pada buku itu dan bertekad untuk membuat banyak kenangan bersama dengan orang-orang terkasihnya.
Hasuko juga begitu. Ia sadar bahwa peran apapun yang diberikan padanya mungkin akan terlihat menawan pada dirinya. Namun ia mengerti bahwa selama ini yang ia inginkan adalah menjadi dirinya sendiri. Ia menolak semua baju dan peran yang ditawarkan oleh orang-orang itu. Ia kemudian maju ke depan panggung, dan menari sepuasnya. Penonton tak berwujud yang duduk di kursi panggung bertepuk tangan, memberikan pujian padanya atas tarian yang luar biasa.
Jalan mereka akhirnya bersatu kembali. Mereka keluar dalam keadaan puas mengenai apa yang mereka inginkan. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kuil Seiryuu di puncak gunung tertinggi pengunungan Touhou.

Kamu tadi melihat perpustakaan tidak?

Tidak. Kamu melihat panggung?

Sepertinya memang lebih baik kita bercerita nanti saja.

gurau Nanashi kepada Hasuko.
Mereka tidak melihat kuil, melainkan melihat altar besar yang sudah diisi oleh biarawan yang ada di sana. Seorang dari biarawan itu datang menghampiri mereka berdua dan menanyakan apakah mereka akan mengunjungi Seiryuu. Mereka mengiyakan, kemudian biarawan itu memanggil mereka bahwa mereka sudah akan bertemu Seiryuu.
Para biarawan itu kemudian melakukan ritual untuk memanggil Seiryuu. Tiba-tiba langitpun gelap tertutup awan hitam. Hallintar muncul dari balik awan-awan itu. Menurut biarawan, inilah pertanda Seiryuu akan muncul. Betul saja, terdengar raungan dari kejauhan. Seiryuu-pun muncul dari balik awan, menembus cakrawala.

Jadi kamu yang ingin bertemu padaku, Hasuko ke-XI? Siapa temanmu itu?

tanya Seiryuu.

Dia.. dia itu-

Sebelum kalimat tersebut diselesaikan oleh Hasuko, Nanashi kemudian maju ke depan dan mengenalkan dirinya kepada Seiryuu dan tujuannya menemui Seiryuu dan penjaga lainnya.

Kamu.. sepertinya aku tahu dirimu. Sudah berapa kali kemari?

Nanashi tidak memahami apa maksud Seiryuu.

Mungkin memang sekarang saatnya. Baiklah, lebih baik ku kenalkan diriku terlebih dahulu. Aku Seiryuu, salah satu dari empat penjaga arah mata angin. Aku melambangkan kekuatan. Barusan kalian melewati Gua Takdir kan? Gua itu memang akan mencerminkan perasaan apa yang kuat dalam hati kalian. Aku yakin tidak banyak orang yang bisa melewati Gua Takdir tanpa terjebak di dalamnya, dan kalian sudah melewati semua itu dan meyakinkan diri untuk apa yang kalian akan lakukan selanjutnya. Kekuatan itulah yang harus dimiliki semua manusia, yaitu meyakinkan diri sendiri. Akan kuberikan Jinsei ini kepadamu.

Kemudian Seiryuu kembali menuju tempatnya kembali, tak lupa mengatakan bahwa takdir Nanashi akan segera dimulai. Nanashi tak paham apa maksud Seiryuu, namun akan ia ingat apa yang diucapkannya.
Tiba-tiba dari kejauhan muncul makhluk-makhluk buas seperti yang menyerang Seiho. Bersamanya juga datang Ashura lengkap dengan antek-anteknya. Para biarawan itu kemudian bersiap untuk bertarung, begitu juga dengan Nanashi.
Sesampainya makhluk itu datang, Nanashi secara naluriah melompat dan memukul ke arah atas, mengenai makhluk tersebut hingga terpental jauh. Mereka bertarung dengan berani melawan makhluk buas dan anak buah Ashura.

Wah, jadi kamu orangnya ya? Sudah berkali-kali kita ketemu, tapi kurasa kau tetap saja begini.

ucap Ashura kepada Nanashi.

Bertemu? Ini pertama kalinya kita bertemu!

teriak Nanashi kepada Ashura.
Ashura tertawa lepas kemudian berkata,

Jadi kamu lupa selama berkali kali kamu mengalahkanku dan mempermalukanku?! Baiklah, kubuat kau ingat siapa dirimu. Kamulah yang diutus oleh kahyangan untuk mengalahkanku. Kamu adalah Taishakuten!

Hasuko kaget mendengar perkataan Ashura kepada Nanashi. Sebab Taishakuten hanya muncul saat dunia mulai mengalami kehancuran, terlebih dalam situasi hilang ingatan. Benar saja, memang sudah terjadi kekacauan di berbagai belahan dunia lainnya.

Jadi kamu benar-benar lupa ya? Baiklah. Aku akan memberikan kalian waktu satu minggu untuk mengingat siapa dirimu sebenarnya. Aku akan tunggu di pengunungan berapi Nanpou untuk mengalahkanmu!

Ashura kemudian memerintahkan pasukannya untuk mundur selagi melakukan onar di berbagai belahan dunia. Nanashi kaget dan lemas mendengar itu. Selama ini ia adalah reinkarnasi Taishakuten yang diutus untuk mencegah dunia dari kehancuran. Hasuko mencoba menenangkan Nanashi, namun badan Nanashi masih saja menggigil ketakutan.
Mereka kemudian beristirahat di penginapan tadi pagi. Nanashi tidak bisa tidur semalaman karena hal yang diucapkan Ashura tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Hasuko menyadari hal ini, kemudian mendekati Nanashi dan duduk di sampingnya.

Aku.. aku tahu kalau kamu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Ashura tadi. Aku juga sama. Aku tak tahu kalau ternyata kamu adalah reinkarnasi Taishakuten.

Yang sebetulnya aku takutkan bukan takdirku sendiri. Melainkan bagaimana nantinya nasib orang-orang yang berada di sekitarku. Termasuk kamu, Hasuko. Kamu nanti pasti terjebak dalam pertempuran ini.

Hasuko tahu kalau Nanashi masih cemas akan orang-orang di sekitarnya.

Yasudah, lebih baik kita istirahat dulu. Besok kita akan melanjutkan ke Nanpou, bukan?

Mereka berdua kemudian istirahat untuk melanjutkan perjalanannya menuju Nanpou.
Esoknya, mereka siap melanjutkan perjalanan menuju Nanpou. Hasuko kemudian membantu untuk mengemas barang Nanashi.
Hasuko, sambil memegang tangan Nanashi, kemudian berkata,

Nanashi, aku tahu kamu cemas. Namun ada aku di sampingmu yang akan membantumu.

Terimakasih, Hasuko..

Mereka kemudian berjalan menuju Nanpou.

Kamu tahu tidak?

tanya Nanashi kepada Hasuko.

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menerima takdir seperti ini. Aku hanya ingin mengetahui siapa diriku, dan tinggal seperti manusia biasa.

Aku juga begitu. Aku hanya ingin hidup seperti mereka- bisa bermain sepuasnya bersama teman-temannya.

Mereka berdua terdiam sebentar.

Saat ini semua telah selesai,

kata Hasuko.

Mau hidup bersama?

Hanya gelap malam dan cahaya bulan yang menemani mereka berdua selama perjalanan. Hening mengisi relung hati, tak memberikan jawaban yang diinginkan. Mereka tidak berbincang setelah itu, membuat pertanyaan tadi tidak terjawab.
Esoknya, mereka sudah sampai di perbatasan Nanpou. Terlihat garis pembatas cakrawala yang membedakan kedua daerah tersebut.
Terlihat seperti langit dan bumi yang takkan pernah bisa bersatu, daerah pegunungan Nanpou hanya berisikan dataran kering nan hampa, dihiasi gunung-gunung berapi yang sedang memancarkan isi perutnya. Berbanding terbalik dengan kuil seiryuu, kuil suzaku terletak diantara gunung-gunung berapi tersebut. Melihat hasuko yang mulai takut, Nanashi memegang tangannya dengan erat dan menyalurkan keberaniannya kepada hasuko.

Ayo, kita lanjutkan perjalanannya.

Umm..

Kata Hasuko dengan lirih.
Terdapat sebuah desa yang mengurusi kuil suzaku di lereng gunung berapi. Tetapi setelah mereka sampai disana, kondisi desa itu sangatlah buruk, lava panas yang keluar dari perut bumi memuntahkan isinya ke arah pedesaan. Nanashi hendak menyelamatkan mereka, namun disaat itu juga ada 3 tempat yang harus diselamatkannya secara bersamaan, ia bingung dan mulai panik. Hasuko yang mengetahui nanashi sedang panik, ia menggenggam erat tangan Nanashi dan membisikan sesuatu.

Tenang, kau pasti bisa melakukannya Nanashi

Setelah Nanashi menjadi tenang, dia bisa berpikir jernih. Ia langsung mengganti haluan aliran lava ke arah yang tidak terdapat korban jiwa dengan membuat parit-parit. Penduduk desa sangat berterimakasih dengan apa yang dilakukan Nanashi dan mengganggapnya sebagai pahlawan.
Sorak semangat penduduk kepada Nanashi terdengar jelas, memberi semangat padanya.

Terimakasih, namun aku hanya seorang manusia biasa yang diberi sedikit kepercayaan dan kekuatan dari yang lain

Kata Nanashi.
Penduduk pun bersorak makin kencang, dan berhenti setelah kepala desa datang dan memandu Nanashi menuju kuil Suzaku. Kuil Suzaku hanya seperti kuil biasa, tempatnya kecil namun sangat bersih. Terdapat berbagai aksesoris dan persembahan yang tidak biasa di sana.

Penjaga kami memang sedikit pemilih, jadi kau akan melihat hal-hal yang jarang ditemukan di kuil lain

ucap kepala desa.
Nanashi masuk kedalam kuil itu sendirian dan mulai bermeditasi untuk bertemu dengan suzaku, tak lama kemudian muncul lah sebenih api hangat dihadapannya dan berubah menjadi api yang dapat menghanguskan seluruh desa, namun herannya api tersebut tak membakar apapun dan terasa begitu hangat.

Akhirnya kau datang juga, wahai temanku

Ucap Suzaku.

A..apa kita pernah bertemu sebelumnya ?

Tanya Nanashi

Hmm, begitu ya. Lupakan saja ucapanku, akan kuberi Jinseiku kepadamu. Karena kau sudah menyelamatkan desa ini dengan keputusan yang tepat serta walau kau dipuja, kau masih rendah diri. Itu merupakan cerminan dari Kemuliaan yang jarang dimiliki manusia seka–

Kyaaa!

Hasuko yang ditinggal Nanashi diluar tiba-tiba menjerit, memotong pembicaraan sakral dengan sang penjaga, Nanashi langsung berlari dengan kecepatan diluar akal sehat. Hasuko berada ditangan Ashura yang muncul entah dari mana.

Jika kau ingin gadis ini hidup, tukarkan nyawamu dengan miliknya. Kutunggu kau di pinggir kawah lava gunung tertinggi

Tidak!

Teriakan Nanashi yang mengiringi kepergian Ashura kedalam bayangan tanahnya dan membawa Hasuko kedalamnya.
Nanashi yang awalnya gagah berani, kini layaknya bunga yang kehilangan tangkainya. Ia bingung apa yang harus dilakukannya, biasanya ada Hasuko yang akan membantunya mengambil keputusan. Namun sekarang ia harus membuat keputusannya sendiri dan nyawa hasuko menjadi taruhannya. Suzaku yang menyadari bahwa kemuliaan Nanashi masih ada yang kurang, menunda keinginannya untuk memberikan Jinsei.

Jadi seperti ini, aku akan menunda pemberian Jinseiku kepadamu. Aku tidak akan memberikannya kepada orang yang setengah-setengah, tetapkan pendirianmu. Pikirkan baik-baik mana yang menjadi tujuan utamamu didalam kehidupan kali ini.

ucap Suzaku dan lalu menghilang begitu saja tanpa jejak.
Nanashi bingung, tujuan utama dia dari awal adalah mencari jati diri dan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran, namun disatu sisi hatinya mengatakan bahwa buat apa dia melakukan itu semua tanpa adanya Hasuko? Akhirnya ia menyadari bahwa dirinya sudah jatuh cinta kepadanya, dan kehidupan Nanashi akan sirna jika Hasuko tiada. Dia memutuskan untuk menyerahkan dirinya demi Hasuko yang dicintainya.
Sesampainya di tepi kawah lava yang disebut, disana terdapat Ashura yang sedang bosan menunggu. Dan dibelakangnya terdapat Hasuko yang pingsan sedang melayang-layang diudara melawan gravitasi dan dikelilingi pisau-pisau yang siap membunuhnya kapan saja.

Jadi, ini akhir dari perjalananmu, hei pahlawan?

Ucap Ashura

Lepaskan Hasuko, jangan kau berani macam-macam dengannya!

Jawab Nanashi tegas.

Iya, kemari lah aku akan melepaskannya setelah kau mendekatiku

Ucap Ashura
Nanashi berjalan dengan ekspresi kosong, namun di hatinya ia merasa tenang bahwa Hasuko tidak akan mati. Hasuko tiba-tiba terbangun dari pingsannya dan menyadari situasi yang telah terjadi dengan dirinya.

Jangan menyerah Nanashi, kau pasti bisa melakukannya!

Ucap Hasuko
Nanashi yang menyadari bahwa keputusannya itu salah, langsung mencabut pedang pendek dari sabuknya dan berniat ingin mengalahkan Ashura.

Sudah kuduga akan begini.

ucap Ashura.
Ashura menjentikkan jarinya, tiba-tiba Hasuko terteleportasi diatas kawah lava dan terjun bebas menuju lava yang bahkan bisa menghancurkan besi sekalipun.

Hentikan!

Tak ingin mengulangi kesalahannya lagi, Nanashi langsung berubah haluan kearah Hasuko jatuh dengan kecepatan diluar hukum alam dan nyaris jatuh. Nanashi berhasil menyelamatkan Hasuko dengan memegang gelang yang berada pada tangan Hasuko. Ashura tertawa layaknya iblis dan mendekati Nanashi yang posisinya sedang tidak di untungkan. Disatu sisi ia harus bisa menyelamatkan Hasuko, dan dilain sisi terdapat Ashura yang ingin menikamnya dari belakang.
Gelang tangannya tidak kuat menopang berat Hasuko dan terputus. Dan seketika itu juga seluruh ingatan Nanashi kembali layaknya tsunami memori yang membanjiri otaknya. Ternyata gelang tersebut berisi ingatan Taishakuten terdahulu yang disegel, dia ingat bahwa Nanashi adalah Taishakuten dan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada ini.
Nanashi melompat dari atas menuju ke bawah, menyusul Hasuko yang sedang terjatuh. Nanashi bisa mengendalikan kekuatannya dan melayang di atas kawah lava, ia menangkap Hasuko dengan lembutnya dalam gendongan sang puteri. Hasuko terkejut dengan perubahan Nanashi.

Tolong tunggu sebentar Hasuko, ada yang masih perlu kuperbuat

Ucap Nanashi lembut.
Hasuko memberikan senyuman yang tulus dari hatinya, mengiyakan perkataan Nanashi.
Api hangat muncul kembali dihadapan mereka berdua, namun ukurannya menjadi lebih besar dari awal mereka bertemu.

Akhirnya kau kembali, Taishakuten. Akan kuberikan Jinseiku kepadamu

Ucap Suzaku.
Dengan berkumpulnya 4 Jinsei didalam tubuh Nanashi, kekuatan ia menjadi sempurna. Kekuatannya bersatu dan bersinergi saling melengkapi, menutupi kekurangan dari diri Nanashi. Setelah menempatkan Hasuko ditempat yang aman, Nanashi kembali menuju hadapan Ashura yang sedang panik, karena apa yang diperbuatnya justru membuat Nanashi semakin kuat. Ashura mengeluarkan pasukan kematiannya yang berjumlah ribuan. Namun itu hanya hal sepele bagi nanashi, dengan mengeluarkan cahaya dari tubuhnya monster-monster langsung menghilang layaknya disucikan. Lalu beribu-ribu magic dilancarkan menuju Nanashi—

Akan kubantu kau dalam pertarungan ini, wahai temanku

Ucap Suzaku.

Terimakasih

Jawab Nanashi.
Dengan merentangkan sayapnya didepan Nanashi, Seluruh magic yang dilancarkan menghilang begitu saja setelah mengenai api Suzaku. Tak ingin kalah, Ashura mengeluarkan seluruh kekuatannya dengan melemparkan bebatuan besar dan lava menuju Nanashi. Namun tetap percuma, dengan tembakan api dari Suzaku, semua itu lenyap menjadi abu, bahkan lava sekalipun.

T-tidak Mungkin, A-aku tidak ingin kalah kembaliii

Ucap Ashura sambil berlari memegang pedang.

Nanashi gunakanlah aku sebagai pedangmu, gabungkan lah seluruh Jinsei yang telah kami berikan kepadamu kedalam diriku.

ucap Suzaku yang berubah menjadi pedang api yang siap melahap siapa saja.

Baiklah, kawanku

Jawab Nanashi sambil berkonsentrasi mengumpulkan kekuatannya didalam pedangnya.
Pedang Suzaku yang awalnya hanya berwarna merah menyala sekarang dikelilingi berbagai warna yang mewakili setiap Jinsei yang ia dapat. Mereka menyelimuti pedang Suzaku yang Nanashi pegang. Ashura yang memiliki kecepatan setara dengan Nanashi, sudah berada dihadapan nanashi kembali dan menghunuskan pedangnya. Namun pedangnya hanya membelah udara, karena Nanashi sudah berpindah kebelakang Ashura. Dan dengan sekuat tenaga, Nanashi membelah Ashura dengan kekuatan 4 penjaga arah mata angin dan memusnahkannya.

Dengan ini, semua sudah berakhir

Ucap Nanashi.

Terimakasih telah mengembalikan kedamaian dunia ini, aku Suzaku mewakili 4 penjaga arah mata angin memberikan penghormatan kami kepadamu

Ucap Suzaku yang sudah berubah menjadi bentuknya semula, dan menghilang.
Hasuko yang menyadari semua telah selesai, berlari menghampiri Nanashi yang masih terdiam ditempat tersebut.

Nanashi!

Panggil Hasuko keras berkali-kali, menangis dan memeluk Nanashi
Nanashi memeluk kembali Hasuko dan mengelus-elus rambutnya dengan lembut untuk menenangkan dirinya, lalu Nanashi berkata

Aku kembali Hasuko, maaf membuatmu lama menunggu!

Selamat datang kembali Nanashi!

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *