Malam yang indah tak terganggu, hanya ditemani suara serangga yang menyangga. Rembulan berpijar terang terpantul di permukaan air danau yang luas. Seorang gadis yang cantik jelita sedang memperhatikan pemandangan itu, mengukirnya di dalam ingatannya. Pemandangan yang indah ini menenangkan hatinya. Sudah sejak kecil ia melakukan itu. Namun malam ini berbeda dari biasanya.

Gadis itu merasa ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ia mencari perbedaan itu di sekeliling danau, termasuk di sebuah hutan di sebelah timur danau itu. Hutan itu ia kelilingi, saking penasaran terhadap apa yang terjadi sebenarnya. Ia tak tahu pasti akan hal itu, namun ia tahu ada yang janggal malam ini. Ia mulai khawatir. Kemudian ia mencari ke suatu tempat di tengah hutan- sebuah tempat yang jarang dijamah oleh manusia karena tempat itu keramat.
Bagai sebuah lukisan yang indah, tempat itu dikelilingi oleh sinar rembulan. Di tengahnya terdapat sesosok laki-laki muda. Si gadis itu tak tahu harus bagaimana. Ia hanya memandangi laki-laki itu dengan seksama. Matanya yang bulat memandangi laki-laki itu dengan pandangan yang indah, membangunkan laki-laki itu. Laki-laki tersebut balik memandanginya, membuat si gadis kaget dan tercengang atas pemandangan yang indah ini. Momen berdua yang tidak akan diganggu oleh siapapun juga.

“Aku di mana,”

tanya si laki-laki tersebut.
Si gadis itu bingung ingin menjawab apa. Saat ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan laki-laki tersebut, sudah langsung disusul oleh pertanyaan selanjutnya.

“Aku siapa?”

Pertanyaan itu bagai halilintar yang menerjang dari angkasa, keras dan terasa. Sebelum pertanyaan tersebut dijawab, laki-laki itu sudah pingsan.
Cahaya matahari yang terbit dari ufuk timur menembus garis jendela sebuah ruangan. Cahaya itu mengenai muka lelaki tadi malam dan membangunkannya.

“Kamu sudah bangun? Syukurlah kamu sadar. Badanmu lemas sekali semalam, jadi terpaksa aku memanggil warga sekitar untuk membawamu kemari. Oh iya, kamu bisa panggil aku Hasuko.”

Kata-kata Hasuko kepadanya serta senyumnya yang indah terukir dalam hati laki-laki tersebut. Pemandangan ini selamanya akan ada berada padanya selamanya. Ia hanya terdiam, kagum dengan keelokan Hasuko.

“Namamu siapa?”

tanya Hasuko.

“Namaku..”

Lelaki itu hanya terdiam. Ia tidak ingat siapa dirinya maupun jati dirinya. Baginya, ia merasa bahwa dia kosong. Dia bingung ingin berkata apa. Ia berharap ia bisa melanjutkan percakapan ini dengan menjawab pertanyaannya.

“Bagaimana kalau aku memberikan nama ‘Nanashi’ kepadamu?”
“..Nanashi?”

Nanashi terlihat sumringah. Ia menyukai nama yang diberikan oleh Hasuko. Tak lama, Hasuko memberikan sebuah gelang yang ia pasangkan di tangan Nanashi.

“Gelang ini.. melambangkan para pendahulu yang menyelamatkan desa dan negeri ini. Aku ingin kau memilikinya. Lihat, aku juga pakai gelang yang sama, lho!”
“Sekarang,” Hasuko melanjutkan. “Kita akan pergi ke leluhur terlebih dahulu untuk meminta wejangan dan arahan untukmu.”

Keduanya berjalan menuju kuil di atas bukit desa. Sepanjang anak tangga yang mereka lalui bersama, mereka bercengkrama mengenai banyak hal. Khususnya tentang budaya desa dan negeri ini. Hasuko menjelaskan bahwa desa ini merupakan salah satu dari sedikit tempat yang aman. Sebab di luar sana terjadi peperangan yang disebabkan oleh entitas jahat yang bernama Ashura. Paling tidak setiap abad, negeri ini memiliki seorang penyelamat yang diutus oleh kahyangan. Nanashi, yang tidak tahu apa apa, hanya bisa mengangguk tanpa memahami maksud Hasuko.
Sesampainya di kuil leluhur, Hasuko memerintahkan agar Nanashi mengikuti gerakan tubuh yang sama persis setelahnya. Ini bertujuan untuk mengikuti adat budaya yang ada di desa. Hasuko masuk terlebih dahulu, kemudian menunduk kepada leluhur sebagai tanda hormat kepadanya. Nanashi, yang ada dibelakang, mengikuti gerakan tubuhnya.

“Jadi ini anak yang kamu temukan di danau?”

tanya leluhur kepada Hasuko.

“Iya, betul. Sekarang, apa yang mesti kita lakukan terhadapnya, leluhur?”

“Kamu sudah jelaskan siapa kita dan di mana kita tinggal, Hasuko?”

Hasuko terlihat kaget dan malu, mengingat dia belum menceritakan mengenai hal itu. Nanashi hanya tersenyum kecil sambil memaklumi Hasuko yang mukanya merah. Hasuko kemudian mulai menjelaskan mengenai semuanya.

“Baik. Tadi kita sampai di bagian Ashura, ya? Aku perkenalkan lagi. Namaku Hasuko, lengkapnya Hasuko ke-XI. Yah, walaupun sebetulnya Hasuko itu sebuah gelar yang diberikan kepada gadis yang terpilih menjadi penjaga desa ini, aku mulai menyukai nama ini.”

“Hasuko, langsung saja ke titik utamanya.” gumam leluhur.
“Oh, maaf hehehe. Jadi desa ini bernama Desa Bunga Teratai. Sebab, desa ini menjadi titik utama terjadinya lingkar Rinne, yaitu datangnya seorang penyelamat dari kahyangan. Yah, dalam ajaran kami memang lingkar ini diumpamakan sebagai bunga teratai.”
“Lalu apa hubungannya denganku?”

tanya Nanashi kepada leluhur dan Hasuko.

“Begini, nak. Kamu ada di sini tanpa ingatan tentang dirimu dan jati dirimu, bukan? Untuk mengembalikan ingatanmu itu, kamu harus mengunjungi Empat Penjaga Arah Mata Angin. Atau bisa disebut sebagai Shijin. Pertama adalah Genbu yang menguasai daerah salju Hoppou di utara, Seiryu yang menguasai daerah perbukitan Touhou di timur, Byakko yang menguasai daerah hutan Seiho di barat, dan Suzaku yang menguasai pegunungan berapi Nanpou di selatan. Masing-masing penjaga akan memberikan kepadamu sesuatu. Apa, aku juga tidak tahu. Yang jelas kau mesti ke sana untuk menemui mereka.”

Leluhur melanjutkan penjelasannya, bahwa selama perjalanan Nanashi untuk menemui keempat penjaga arah mata angin tersebut, Hasuko harus menemaninya sebagai penjaga desa. Sebab, kejadian seperti Nanashi langka terjadi selama berdirinya Desa Bunga Teratai.
Mereka kembali pulang, tak yakin apakah mereka mesti melakukan ini bersama. Terlebih, Hasuko baru saja bertemu dengan Nanashi semalam. Ia nampak tak yakin kalau perjalanan untuk mencari jati diri Nanashi akan berakhir dengan keberhasilan. Semuanya ada di tangan takdir yang tak pasti, pikirnya.
Nanashi melihat kerisauan yang dirasakan Hasuko, memegang tangan Hasuko.

“Aku minta maaf telah merepotkanmu begini.”
“Tak apa, memang sebagai Hasuko tugasku memang begini. Lagipula, kalau memang perjalanan ini membuat kita semakin erat, kenapa tidak?”

Sesampainya di kuil Hasuko, mereka langsung menyiapkan barang yang akan dibawa selama perjalanan mereka. Nanashi, tak yakin ingin membawa apa, akhirnya membantu Hasuko menyiapkan barangnya.

“Kamu tahu kenapa aku dipilih menjadi Hasuko?”

Hasuko memulai sebuah percakapan dengan kalimat pertanyaan itu. Tak yakin ingin membalas apa, ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan menanyakan kenapa.

“Aku tidak pernah mengenal orang tuaku. Tiba-tiba saja aku di sini dipilih menjadi Hasuko. Katanya aku memiliki kelebihan yang istimewa.”
“Kelebihan itu?”
“Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Jujur saja aku ingin menjadi gadis biasa saja. Aku bersifat seperti tadi pagi itu berbeda dengan aku yang ada di depan orang-orang di desa ini. Aku dituntut untuk menjadi.. seseorang yang bukan aku. Mungkin inilah kesempatanku untuk lari. Kamu mau menemaniku lari dari sini?”
“Kamu tahu, Hasuko? Kalau saja kamu lari..”
“Kalau aku lari, desa ini akan hancur. Begitu katamu?”

sela Hasuko.

“Bukan, Hasuko. Bukan begitu. Mungkin saja kamu bisa berlari dari sini. Tapi apa kehidupan di luar sana memang untukmu? Aku iri kepadamu, Hasuko. Kamu dipersiapkan untuk ini. Aku tidak. Lagipula, bagaimana kamu melupakan satu-satunya kehidupan yang kamu punya?”

Hasuko hanya terdiam. Ruangan itu tiba-tiba menjadi hening. Hanya kekosongan yang menemani mereka.

“Mungkin,” Nanashi melanjutkan. “Memang perjalanan ini sebetulnya diperuntukkan kepadaku. Tapi selagi kita dalam perjalanan, kita akan menemui banyak hal. Kamu mungkin tidak perlu menemui empat penjaga itu. Tapi yang jelas kita akan mempelajari banyak hal. Aku pikir itu akan mengembangkan diriku juga dirimu. Tenang, Hasuko. Dalam perjalanan ini, kamu tidak sendirian.”

Nanashi memeluk Hasuko dengan erat. Hangatnya badan Nanashi mengisi kekosongan hati Hasuko. Ia balik memeluknya, mencari teman dalam hidupnya yang hampa dan sendirian. Mereka kemudian melanjutkan menyiapkan barang, dan lanjut istirahat.
Keesokan harinya, mereka sudah siap untuk berangkat. Seluruh desa sudah menunggu di luar untuk mengantarkan mereka menuju gerbang keluar desa. Hasuko memandang Nanashi, menganggukkan kepalanya menandakan bahwa mereka akan segera berangkat. Cahaya matahari menyinari mereka. Perjalanan mereka untuk mencari jati diri sudah dimulai.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *