JINRUI NO KAO

Pada suatu masa, di negara yang penuh dengan pohon sakura dan kehangatan dari gunung merapi yang membara, hiduplah masyarakat dengan berbagai macam budaya, dengan berbagai macam pemahaman terhadap hidup yang mereka jalani. 12 budaya, berasal dari 12 bintang surga yang menciptakan dunia yang manusia injak dan diami. Setiap budaya, setiap adat istiadat, dan setiap perbedaan menjadi suatu kekuatan, suatu anugerah yang diberkahi oleh masing-masing bintang surga. Semakin kuat suatu budaya, semakin sejahtera suatu rakyat.

Namun, semua ini memerlukan seorang pemimpin. Seorang wakil dari para bintang surga untuk memimpin manusia di muka bumi ini. Setelah perundian yang cukup lama, dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya dipilih seorang manusia yang menjajikan. Pada suatu malam di bawah rembulan yang bercahaya penuh, manusia terpilih ini bertemu dengan ke-12 bintang surga dalam wujud yang menyerupai bentuk manusia, namun terlihat sangat jelas bahwa mereka bukanlah dari dunia ini.

Satu per satu, kekuatan diberikan kepada manusia ini, dengan setiap bintang surga memberikan kepercayaannya masing-masing kepada manusia ini. Keberanian, ketekadan, kreativitas, pelindung, harga diri, kesempurnaan, kesetaraan, kegemaran, kerja keras, imajinatif, spiritualitas. Semua kekuatan ini diberikan pada semua manusia berdasarkan apa yang dilihat oleh para pemberi.

Dan pada awalnya, ini memang merupakan pilihan yang terbaik. Negara ini bertambah makmur di bawah pemimpinan manusia ini. Namun, lama kelamaan, manusia ini mulai bosan, atau lebih tepatnya, merasa tidak tidak cukup dengan apa yang dia miliki. Karena kekuatan dari para bintang surga, usianya tidak pernah bertambah, dan hatinya mulai tertutupi oleh keserakahaan. Terpikirkan dalam benaknya, bahwa ia bisa menambah kekuatan yang ia miliki dari rakyatnya sendiri.

Satu per satu, warga mulai dipanggil ke hadapannya. Siapapun yang menghadapi pemimpin, tak pernah dengan kembali seperti semula. Semangat hidup seakan-akan menghilang, keceriaan yang dulu mati tergantikan dengan wajah-wajah kosong. Semua anugerah dari ke-12 bintang surga dihisap lansung dari setiap masyarakat, sampai tak ada satupun budaya yang tersisa di negara ini. Hanya manusia kosong yang hidup tanpa tujuan yang pasti.

Akhirnya manusia ini telah selesai tujuannya untuk menguasai dunia, yang tersisa hanyalah mengalahkan ke-12 bintang surga sehingga mendapatkan kekuatan yang paling sempurna. Namun, pada suatu malam, ketika ia bermimpi, ia mendapatkan suatu ramalan, entah darimana datangnya. Ternyata ia tak mungkin mengalahkan ke-12 bintang surga, karena akan datang dua orang manusia, sepasang laki dan perempuan, yang bersatu untuk mengalahkannya, dan mengembalikan semua anugerah yang telah ia curi.

Manusia ini merasakan sesuatu yang sudah lama ia tak kenal: ketakutan. Ia lansung mencari di seluruh belahan dunia, mencari kedua wajah yang ia temui di mimpi malam itu. Dan saat ia bertemu mereka berdua, ia memasang suatu kutukan pada mereka berdua, sehingga mereka tak mampu untuk melawannya. Namun karena memasang kutukan ini, kekuatan dari pemimpin ini takkan cukup untuk melawan ke-12 bintang surga, maka ia harus puas sementara sambil memikirkan cara baru untuk melawan bintang surga ini.

Keadaan ini berlanjut bertahun-tahun, berzaman-zaman, hingga tak tersisa satupun budaya di dunia ini. Ketiga manusia yang disebutkan sama-sama tak terkikis zaman, mau itu akibat kekuatan anugerah, atau karena segel pada kutukan di topeng kedua pahlawan yang terperangkap dalam amnesia.

keadaan yang semakin memburuk, ke-12 bintang surga merasa bersalah akibat pemilihan mereka yang ternyata salah. Aries, sang bintang pemberani, menyarankan untuk lansung menghancurkan sang pemimpin ini, namun diingatkan bahwa kekuatan astral tak boleh ikut campur secara lansung dalam urusan manusia. Lalu Aquarius, sang bintang imajinatif, menyarankan untuk mencabut saja kekuatan dari pemimpin ini, namun juga diingatkan bahwa apapun yang sudah diberikan, tak bisa ditarik kembali dari dunia ini.

Pada akhirnya, Libra, sebagai bintang yang paling adil, yang bisa mempertimbangkan sisi baik dan buruk untuk segala masalah, memberi suatu solusi: Apabila kita tak bisa berurusan lansung, maka lebih baik kita mengajarkan kembali anugerah kepada manusia yang disebutkan dalam ramalan.

Bintang surga yang lain setuju. Mereka memakai perwujudan mereka yang menyerupai manusia, lalu berpencar di empat titik di dunia yang masih mampu bertahan dengan budaya. Api, Udara, Air, dan Tanah, menjadi empat penegak dunia yang bahkan sang pemimpin serakahpun tak boleh sentuh, karena bisa menghancurkan seluruh bumi apabila diganggu.

Cerita ini bermula di perbatasan suku Api dan Air.

Dua pahlawan beramnesia dan terkutuk dengan topeng ini harus menyelamatkan dunia, melalui perjalanan untuk mempelajari dan memahami maksud dari kehidupan mereka.

Untuk mempelajari kembali budaya dan sifat-sifat baik dari manusia yang sudah lama menghilang.

Notes:

“[The Japanese people] are so crafty in their hearts that nobody can understand them. Whence it is said that they have three hearts: a false one in their mouths for all the world to see, another within their breasts only for their friends, and the third in the depths of their hearts, reserved for themselves alone and never manifested to anybody.”

Hal tersebut menjadi dasar pengaplikasian kutukan berupa topeng pada kedua pahlawan ini. Sebagai wajah palsu yang menutupi sesuatu yang lebih murni, yang lebih asli, di bawahnya.