Chapter 2 : Manjusha, The Land Of Groaning Rain

Hampa.

Perasaan yang kurasakan saat melihat rintikan hujan dari jendela. Lorong-lorong dingin diam membisu, tak ada suara, hanya terdengar derap kaki dan tetes hujan diluar. Di sebuah rumah yang sangat besar, dengan banyak hiasan juga kemegahan, tapi mengapa aku merasa asing dengan semua ini. Lukisan-lukisan yang indah bahkan potret foto bahagia di setiap dinding tidak membuatku bahagia, hanya hampa dan bahkan membuatku takut.

Hening.

Itulah pikirku di setiap hari terbangun di rumah megah ini. Sendirian. Warga di luar yang masih melanjutkan hidupnya seakan-akan menghilang dari pikiran. Mereka yang menerimaku dengan tangan terbuka lagi, berusaha memberitahuku sesuatu yang tak aku paham maksudnya. Kuingat wajah mereka yang tenang, namun penuh dengan perasaan mengetahui lebih daripada yang dapat kupikirkan. Warga berpakaian segala macam warna biru, diiringi suara rintik hujan pelan dan petikan senar yang merdu.

Mulai kususuri lagi dan lagi setiap inci rumah ini, mungkin akan memberikanku petunjuk, mengapa aku disini, dan siapa aku. Selalu kuamati lamat-lamat setiap detail rumah ini, benda antik hingga goresan di dinding yang kuharap mereka dapat membisikkan sebuah petunjuk untukku. Dan sampailah aku di sebuah lorong sunyi panjang dan sendu, penuh dengan potret foto, wajah-wajah bahagia yang tak kukenal. Asing. Lorong yang membuatku enggan untuk melewatinya

Tapi rasa penasaran ini membuat kakiku melangkah ke dalam lorong. Kuamati foto-foto di setiap dinding berharap memberikan makna. Nihil. Meskipun begitu aku cukup menikmati ini. Dan tanpa sadar aku berada di ujung lorong, terlihat sebuah potret keluarga yang sangat besar, terdapat 3 orang disana seorang pria dengan setelan baju yang membuatnya terlihat penuh wibawa. Kuyakin dialah pemilik rumah yang sangat hebat ini, lalu seorang wanita dengan paras yang sangat cantik menggunakan gaun berwarna biru yang terlihat sangat cocok dengan warna matanya dan terakhir seorang anak kecil lugu dengan setelan baju yang sama denganku dan wajah yang kurasa tak asing bagiku. Tunggu, apakah itu aku? Kuterdiam lama. Tak Bergeming. Mencoba mengingat sesuatu yang amat penting…

Sesak.

Rasa sesak ini menyelimuti diriku, bercampur dengan perasaan sedih dan takut. Rasa sakit dan sesak berasal dari topeng ini. Ya aku tau topeng ini menghentikanku mengingat sesuatu, semakin dalam kuingat maka semakin sesak dan sakit yang kurasakan. Sakit sekali. Kumeraung. Kumenangis. Sakit, sakit sekali. Rasa sakit melemahkan kakiku dan membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Bangunlah”.

Suara itu selalu membangunkanku, memanggilku dengan kelembutan. Tapi kemudian menghilang saatku terbangun.

“Kemarilah.”

Suara itu memanggilku!

“Kemarilah.”

Semakin jelas terdengar, tapi aku harus kemana?

“Kemarilah.”

Suara itu terus terngiang di kepalaku, apakah ini petunjuk? Kuputuskan untuk mencari suara tersebut, kumencari disetiap sudut rumah tapi bukan disini. Mendekati pintu suara itu terdengar sedikit lebih jelas. Apakah ia ingin aku keluar dari rumah ini? Saat pintu terbuka suara itu terdengar lebih jelas lagi. Ya, aku harus pergi. Kumulai berlari mengejar suara itu, keluar dari rumah yang selama ini melindungiku dari hujan tiada henti ini. Kuberlari mengikuti suara itu, terus menapaki tanah yang tak pernah kupijak. Tak tau arah. Tak tau tujuan. Kuterus berlari hingga dinginnya hujan menusuk diriku. Kuterjatuh, tak sadarkan diri.

..

Hangat.

Perasaan hangat saat ku terbangun, membuatku lupa akan dinginnya hujan yang kurasakan sebelumnya. Dan suara apa ini ? Suara merdu yang membuat perasaan hampa ini mencair. Penasaran. Aku membuka mataku dan melihat rupa-rupa yang memancarkan kehangatan dan kebijaksanaan. Menatapku dengan lembut.

“Akhirnya kau bangun, pahlawan terpilih.”

Pahlawan?

“Ketsueki, Darah para Bintang Surga.”

Ah jadi dialah yang suara itu, tapi siapa yang ia maksud? Ketsueki? Apakah itu namaku? Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas dikepalaku. Lagi. Topeng ini menahanku untuk mengingatnya. Sesak. Kucoba menahannya tapi tak bisa, aku kembali kalah dengan rasa sakitnya. Akan tetapi rupa yang kulihat tadi melakukan sesuatu yang menghilangkan rasa sakit dan sesak ini.

“Terima kasih Cancer. Sekarang tenanglah Ketsueki, jangan memaksakan dirimu untuk mengingatnya, karena suatu saat kau pasti akan mengingatnya,” ujar seseorang dari rupa yang kulihat, penuh kebijaksanaan.

“Sebelumnya terima kasih. Lalu apakah kau suara itu, yang selalu memanggilku, dan siapa mereka berdua?”

“Hahaha, tenanglah Ketsueki, akan kami jelaskan semuanya. Yap kau benar suara yang memanggilmu itu adalah Aku Pisces salah satu dari 12 Bintang Surga, dan mereka juga adalah 12 Bintang Surga sama sepertiku Cancer dan Scorpio.”

“Ketsueki? Apakah itu namaku? dan apa itu Bintang Surga?”

“Baiklah, baiklah kami akan menceritakan padamu tentang semua yang kau tanyakan. Tapi sebelum itu mari kita bercerita sambil berkeliling kuil ini.”

“Ba-baiklah.”

Dan baru kusadari, aku berada disebuah ruangan dengan corak biru yang khas, dengan dinding-dinding yang memiliki ukiran dengan makna-makna tertentu dan bahkan pencahayaannya menggunakan air yang berpendar.

Saat kami keluar dari ruangan itu, Seseorang yang dipanggil Pisces mulai bercerita tentang bagaimana aku bisa berada disini. Dimulai dari bagaimana mereka mengangkat seseorang untuk membantu mereka mengatur dunia ini, hingga orang tersebut mengkhianati mereka dan mencoba melawan mereka, dan bagaimana aku terpilih menjadi pahlawan serta menggunakan topeng ini. Kemudian kami memasuki ruangan yang amat berbeda dengan ruangan lainnya. Ruangan yang terletak tepat ditengah kuil, dan hanya dapat dilalui oleh satu jembatan, disekelilingnya terdapat Kristal biru berpendar yang menerangi sekelilingnya. Sesaat memasuki ruangan mereka bertiga menoleh kearahku.

“Diruangan inilah kamu akan melakukan sebuah ujian untuk mencari tahu asal-usulmu sendiri dan anugerah yang disegel dalam topeng tersebut. Kalau begitu ujian pertama akan kuserahkan pada Scorpio dan Cancer.”

“Baiklah Pisces. Serahkan ini pada kita.”

Lalu Pisces meninggalkanku sendiri bersama Scorpio dan Cancer di ruangan ini. Tapi, hah?... Sebuah ujian? Apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan padaku?

“Baiklah Ketsu-kun, kita akan memulai ujian pertamanya. Ah dan pasti kau akan bertanya apa yang akan dilakukan bukan? Mari ikuti kami.”

Aku hanya dapat mengangguk dan mengikutinya. Scorpio dan Cancer menuju ke tengah ruangan yang cukup gelap, namun ketika mereka tiba di tengah ruangan, ukiran-ukiran pada dinding dan lantai mulai mengeluarkan cahaya berwarna biru.

“Bagaimana, indah bukan? Aku sangat menyukai saat aku melakukan ini... Oke kembali ke masalah utama. Dalam setiap ujian, kami akan mengirimmu ke dunia antara kenyataan dan khayalan. Lalu mudahnya di sana kau hanya harus memilih mana kenyataan dan mana yang khayalan. Jika kau benar memilih maka kau akan mendapatkan hadiah. Dan jika kau salah kau akan mendapatkan hukuman,” ujar Scorpio.

“Apa hadiah dan hukumannya?” Aku sungguh kebingungan sekarang ini.

“Hadiahnya adalah rahasia... Akan tetapi hukumannya kau akan terjebak di dunia khayalan selamanya. Tapi kuingatkan, jangan sampai kau terbuai oleh dunia khayalan, karena apa yang ia lihatkan padamu bukanlah milikmu sekarang ini dan kau tak akan dapat kembali.... Baiklah kau siap?” jawab Cancer.

“A-apa Tunggu dulu !”

“Baiklah mari kita mulai dan semoga berhasil Ketsu-kun!~”

“He-hei!”

Lalu Scorpio dan Cancer memejamkan mata mereka dan mulai berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Tiba-tiba cahaya biru disekeliling kami bersinar lebih terang hingga membuatku tak kuat untuk membuka mata. Terdengan sedikit suara gemuruh dan pancaran cahaya menjadi sangat terang. Aku tak bisa membuka mata. Lalu...

Hening.

Tak ada suara gemuruh lagi. Lalu akupun membuka mataku dan Scorpio dan Cancer tidak lagi berada di depanku. Semuanya terlihat gelap. Tidak ada cahaya biru ataupun dinding dengan ukiran, tidak ada apa-apa dan siapa-siapa. Hanya menyisakan diriku sendiri. Kumencoba memanggil Scorpio dan Cancer.

Nihil.

Tak ada jawaban sama sekali.

Aku mencoba untuk berjalan mencari jalan keluar dari ruang gelap tak berujung ini. Terus berjalan tak tau arah. Hanya mengikuti insting berbicara. Hinggaku melihat suatu cahaya, mungkin inilah jalan keluarnya. Aku mulai mempercepat langkah. Cahaya tersebut semakin dekat. Aku mulai berlari. Cahaya tersebut terlihat makin dekat. Hingga akhirnya aku dapat keluar dari ruangan gelap itu. Dan beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa aku kembali ke rumah, tempat aku terbangun dulu.

Aku langsung mengenal tempat ini dari setiap foto, lukisan bahkan goresannya. Ya, ini adalah rumah itu. Tapi yang membedakan, ada orang lain disini. Kuamati orang-orang ini sama seperti foto-foto yang kulihat di dinding lorong. Masih sama, memancarkan aura bahagia.Tapi di mana pria penuh wibawa dan wanita dengan paras cantik itu? Aku mulai penasaran dan mencarinya. Akan tetapi, mengapa aku tak bisa menggerakan tubuhku, tubuh ini bergerak dengan sendirinya. Apa yang terjadi ?

Kemudian diriku ini bergerak, hingga akhirnya menemukan pria dan wanita dari dalam foto di sebuah ruangan tempat aku tidur dahulu. Ternyata memang benar, pria tersebut sangatlah berwibawa dan wanita itu lebih cantik dari yang kuduga. Kemudian tubuhku ini bergerak memasuki ruangan, lalu wanita itu mulai menghampiriku.

“Oh Ketsueki manisku, apakah kau sedang mencari ibu? Kau pasti kebingungan mencari ibu.”

Ah jadi begitu, ini adalah kenanganku dahulu… Akhirnya aku mengerti mengapa aku bisa di rumah ini. Kemudian ia menggendongku dalam pelukannya, dan membawaku menuju tempat tidur. Di sana ada pria penuh wibawa yang kupikir, ternyata adalah ayahku.

“Kau memang anak yang cerdas Ketsueki, kau tak menyerah dan takut untuk datang kemari. Baiklah bagaimana kalo kita tidur bersama, ini sudah larut.”

“Kau benar sayang, tidur terlalu larut tidak baik untukmu Ketsueki.”

“Tapi aku harus menyelesaikan ujian dan kembali pada Scorpio dan Cancer...” Ingin kuberkata demikian, akan tetapi mulutku terkunci erat. Apakah mungkin ini karena aku berada dalam ingatan?

“Selamat malam Ketsueki, ayah menyayangimu.”

“Ibu juga menyayangimu Ketsueki.”

Aku ingin melepaskan pelukan erat mereka karena aku harus segera menemukan ujian tersebut dan kembali pada Scorpio dan Cancer. Akan tetapi, aku tau aku tak dapat bergerak. Perasaan hangat dari pelukan mereka membuatku sangat nyaman. Penuh cinta dan kasih sayang. Jadi inilah rasanya dicintai dan disayangi pikirku, dan tak sadar ikut tertidur bersama mereka.

Mengalir.

Waktu terus mengalir layaknya air, aku begitu menikmati perasaan hangat yang orang-orang berikan padaku. Terkhusus mereka yang dipanggil ayah dan ibuku. Tertawa, takut, marah hingga menangis, aku mulai mengingat bagaimana perasaan tersebut. Aku mulai mengingat kenangan-kenangan yang disegel oleh topeng kutukan ini. Dan akhirnya aku terhanyut dalam perasaan nyaman ini hingga hampir melupakan peringatan dari Scorpio dan Cancer.

Naif.

Itulah yang terbesit di benakku dan pada suatu malam, akhirnya aku mendapatkan bencana bagiku dan orang-orang di dalam rumah ini, yaitu topeng terkutuk. Sakit dan sesak terasa dari mukaku. Tapi terima kasih untuk topeng ini, yang mengingatkanku kembali pada Cancer dan Sagitarius. Aku menjerit dan menangis, membuat semua orang termasuk ayah dan ibu terbangun dan segera menuju kamarku. Berhari-hari aku terus menjerit, menangis, semua hal telah dilakukan oleh untuk menolongku tapi tak ada yang dapat dilakukan.

Satu persatu orang-orang di dalam rumah mulai meninggalkanku karena mereka ketakutan dengan ku, hingga menyisakan ayah dan ibuku. Aku dapat melihat mereka, tubuh mereka lebih kurus dari terakhir kali kuingat. Ayah yang dulu terlihat berwibawa dengan tubuh yang tegap dan sikap yang tenang, namun sekarang terlihat cukup kacau, dan hal itu tergambar dari wajahnya. Ibu yang terlihat cantik dan anggun baik paras maupun tubuhnya namun sekarang pucat dan hampir membuatku tak mengenalinya. Setiap malam mereka berdua terus memelukku dan selalu berkata,

“Tenanglah sayang, apapun yang terjadi Ayah dan Ibu ada disini untukmu. Kami sayang padamu”

Ya, aku dapat mendengar itu, akupun ingin mengatakan kepada mereka bahwa aku juga menyayangi mereka. Tapi tak bisa.

Pada suatu malam, aku mendengar suara seseorang masuk kedalam kamarku, seseorang dengan pakaian serba hitam. Ia mendatangiku yang terbaring di kasur, lalu menatapku dengan tatapan kosong. Ia kemudian mengeluarkan sebuah alat. Darinya ia memetik sebuah benang. Lalu muncul suara dari alat tersebut, suara yang merdu namun sendu dan menakutkan. Kemudian muncul sebuah pedang hitam yang berada tepat di atasku bersiap untuk menikamku.

Dia ingin membunuhku! Aku harus menghindar tapi aku tak bisa bergerak, apakah ini memang kenanganku? Kalau begitu, harusnya sesuatu akan terjadi hingga aku dapat tetap hidup. Kemudian orang dengan pakaian serba hitam itu berkata dengan suara yang serak.

“Demi Kejayaan Ophiucus.”

Kumohon terjadilah sesuatu.

Setelah ia berkata seperti itu, pedang hitam itu melesat untuk menikamku.

Berhenti.

Pedang hitam itu tiba-tiba berhenti sebelum menikamku, kemudian aku mendengar suara merdu yang menenangkan seperti yang kudengar saat bertemu Pisces pertama kali. Ah… ternyata itu ayah dan ibu. Aku tau sesuatu akan terjadi.

“Oh 12 Bintang Surga, kami memohon anugerahmu agar kami dapat selamat dari kejahatan.”

Sama seperti orang itu, setelah Ayah dan Ibu mengucapkan hal itu pedang berwarna kebiruan muncul dan berada dalam posisi siap menyerang.

“Siapa kau? Dan mengapa kau ingin membunuh anak kami?!” teriak Ibu.

“Aaakhh ! Beraninya kalian menggangguku!” teriak orang dengan pakaian serba hitam itu. Kemudian orang tersebut melakukan sesuatu pada alatnya lagi dan pedang hitam itu melesat menuju Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibupun melakukan hal yang sama sehingga kedua pedang beradu dan menimbulkan cahaya yang amat terang. Sejenak aku tak bisa melihat apapun, apakah Ayah dan Ibu menang ?

Setelah cahaya menghilang, aku melihat ayah dan ibu menerima luka-luka di tubuh mereka.

“Karena kalian aku menyianyiakan kekuatan yang diberikan tuan Ophiucus padaku, dan untuk yang terakhir ini aku tak akan gagal lagi.”

Kemudian orang itu melakukan hal yang sama memainkan alat itu dan munculah pedang hitam kembali. Akan tetapi, ayah dan ibu bangkit dengan segenap kekuatan tersisa, kemudian bergerak menuju hadapan orang itu untuk melindungiku.

“Tak akan kami biarkan kau menyentuh anak kami seinchipun.”

“Dasar keras kepala ! Jika itu memang yang kalian inginkan,akan ku kabulkan. Aku akan membunuh kalian dan membuat anak itu tak dapat mengingat kalian dan membuatnya tak dapat menyelamatkan dunia.”

Suara sendu yang menakutkan itu mulai terdengar kembali. Pedang hitam mulai terlihat lebih kuat dari sebelumnya. Ah jadi beginilah aku bisa sendiri di rumah ini. Aku terbujur kaku tidak dapat melakukan apapun, membiarkan kedua orang tuaku mati melindungiku. Jadi inilah ingatanku, memang taka da yang bisa kulakukan. Aku putus asa.

Suara itu sebentar lagi selesai, pedang hitam mulai mengarah kepada Ayah dan Ibu. Taka da yang dapat kulakukan, hanya diam membeku melihat mereka mati dihadapanku. Lagi. Akhirnya selesailah sudah suara itu, menyisakan keheningan. Pedang siap melesat dan menghunus ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu menoleh ke arahku dengan senyuman penuh kasih sayang. Pedang mulai melesat kearah mereka.

“Selamat Tinggal Ketsueki. Jadilah pahlawan yang dapat menyelamatkan dunia.”

“Kami sayang padamu.”

Mendengar itu membuatku menjerit dalam hati. Jangan biarkan ini terjadi. Aku ingin menyelamatkan mereka. Biarkan mereka hidup. Tolong Bergeraklah. Bergeraklah.

Bergeraklah!

Sesaat kemudian waktu berhenti, seisi ruangan tidak bergerak termasuk pedang hitam itu. Dan lihatlah aku bisa bergerak sekarang. Ini kesempatanku. Aku berlari menuju ayah dan ibu dan melindungi mereka. Aku mulai menutup mata dan membiarkan semuanya mengalir terjadi. Akhirnya aku dapat melindungi orang yang aku cintai. Waktu mulai berjalan kembali.

“Bukalah matamu Ketsueki!”

Suara tak asing memanggilku. Aku membuka mata, dan aku kembali di ruangan kuil bersama dengan Scorpio dan Cancer yang tersenyum melihatku. Aku mulai bertanya-tanya pada mereka apa yang terjadi dengan orang tuaku dan orang berpakaian hitam dan juga mengapa aku bisa kembali. Mereka hanya tertawa kecil dan berkata.

“Kau berhasil memahami arti mencintai sesuatu dan melindunginya. Kekuatan sesungguhnya tak akan muncul karena sesuatu yang sederhana. Dia akan muncul saat kau melindungi sesuatu yang berharga bagimu.”

Kemudian mereka meninggalkanku dengan berjuta pertanyaaan. Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda pada diriku, topeng kutukan ini mulai retak dan melemah dan aku merasakan sesuatu telah bangkit dalam diriku.

Mencintai dan Pelindung…

***

Di ruangan yang sama dengan ukiran yang berpendar biru. Pisces membawaku untuk menyelesaikan ujian terakhir. Sama seperti ujian sebelumnya, aku akan pergi menuju dunia khayalan. Tapi aku tak tau apa yang akan menungguku disana.

“Baiklah Ketsueki. Apakah kau siap ?”

“Ya, Aku siap.”

Pisces mulai berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti lagi, dan sama seperti sebelumnya cahaya biru di sekitar kami bersinar lebih terang, yang akhirnya membawaku ke tempat gelap dan kosong kembali. Dari sini aku harus mencari cahaya yang akan membawaku pada tempat ujian terakhir.

Aku mulai berlari mencari cahaya tersebut sama seperti yang kulakukan sebelumnya tapi kali ini bukan cahaya yang kulihat. Akan tetapi, ada 2 orang yang sedang berdiri disana. Sebelumnya tidak ada seorangpun ditempat gelap ini, aku mencoba memanggilnya dan tidak ada jawaban. Aku mulai mendekatinya, semakin dekat mulai terlihat jelas wajah mereka. Dan aku tersadar, mereka adalah Ayah dan Ibu. Akhirnya aku dapat melihat mereka lagi. Aku berlari menuju mereka dan langsung memeluk mereka. Akan tetapi, tidak ada jawaban dan respon sama sekali, apa yang terjadi pada mereka? Ah ya, tentu saja mereka telah tiada. Ini hanyalah khayalan.

“Lalu apakah kau ingin membuatnya menjadi kenyataan ?”

Mendengar hal itu sontak aku menoleh kebelakang. Terlihat seseorang dengan wajah tersenyum padaku.

“Siapa kau?”

“Oh betapa tak sopannya aku, perkenalkan namaku Ophiucus.”

Mendengar nama yang tak asing itu membuatku mengambil jarak yang jauh darinya.

“Tak perlu takut begitu Ketsueki, aku datang kesini dengan niat bersahabat denganmu mari kita berbincang sejenak dan mulai melupakan masa lalu.”

“Langsung saja ke intinya penjahat.”

“Baiklah-baiklah jangan kasar begitu, sekarang aku hanya akan memberikanmu sebuah penawaran yang mungkin akan sangat kuinginkan.”

“Penawaran apa?”

“Penawaran agar kau bisa bersama dengan kedua orang tuamu lagi. Menarik bukan ? aku sudah sangat baik memberikan penawaran hebat seperti ini, penawaran kehidupan ke dua yang lebih baik”

“La-lalu apa yang harus kulakukan ?”

“Mudah saja kau hanya perlu menyerah jadi pahlawan dan jadilah temanku.”

“Menyerah? Itu tidak mungkin. Dan apa maksudmu teman? Bukannya kau lah yang membunuh kedua orang tuaku dan membuatku menjadi sekarang ini, mana mungkin aku bisa berteman denganmu?”

“Sudahlah Ketsueki, mari kita lupakan masa lalu dan aku meminta maaf tentang apa yang telah aku lakukan. Dan untuk masalah menjadi pahlawan, apakah kau benar-benar menginginkannya? Bukankah karena takdirmu itu juga yang menyebabkanmu menjadi seperti ini? Jika kau menyutujuinya kau bisa memeluk orang tuamu dan berkata ‘aku sayang kalian’ ”

“Tapi jika aku menolaknya?”

“Jangan membuatku mengulangi penawaranku Ketsueki. Jadi apa keputusanmu?”

Bimbang.

Aku hanya terdiam mendengar jawabannya. Memang benar aku tak mengiginkan takdir ini dan karena hal ini juga lah aku mengalami semua ini, dan jika aku menerimanya aku akan bisa merasakan kenyamanan kasih sayang itu sekali lagi.

Perlahan aku mulai mendekati kedua orang tuaku, saat aku melihat mereka, aku mengingat kembali bagaimana kehangatan di rumah itu, bersama dengan semua orang-orang didalamnya. Semakin dekat aku dengan mereka membuat pikiranku tak menentu akankah aku menerima tawaran ini atau menolaknya. Hingga sampai di depan mereka aku melupakan apa yang diperingatkan Scorpio, Cancer dan Pisces kepadaku dan pikiranku berkata untuk menerima tawarannya. Akhirnya aku memeluk mereka.

“Aku sayang kalian…”

“Kalau begitu sudah diputuskan-”

“Tapi maafkan aku, sekarang aku harus menjadi pahlawan yang akan menyelamatkan dunia seperti apa yang kalian pinta.”

Tiba-tiba tubuh ayah dan ibu berubah menjadi cahaya yang menerangi ruangan gelap itu. Kemudian cahaya itu masuk kedalam diriku dan aku merasakan sesuatu yang telah lama tersimpan akhirnya terbuka kembali. Kekuatan dan anugerah. Inilah yang pernah dikatakan Pisces padaku. Dan dari cahaya itu muncul sebuah alat dari kayu dengan berbagai ukiran didalamnya.

“Tidak-tidak-tidak, kau akan menyesali ini Ketsueki…~” Kemudian Ophiucus memainkan sebuah alat yang menciptakan banyak pedang hitam di udara dan kemudian menghujaniku. Apa yang harus kulakukan ? lalu apa yang harus kulakukan dengan alat ini ? Tiba-tiba terdengar suara bisikan ayah dan ibu di kepalaku.

“Mainkanlah anakku, kami akan membimbingmu disini.”

Kemudian aku mengangguk dan membiarkan bisikan ayah dan ibu mengendalikanku. Aku memainkan alat ini suara merdu yang menenangkan. Saat aku memainkan alat ini muncul sebuah penghalang yang melindungiku dari pedang-pedang hitam itu. Dan ketika pedang itu menyentuh penghalangku pedang hitam itu berubah menjadi pedang biru yang berbalik menyerang Ophiucus. Ia mencoba untuk menahannya namun sayang penghalang yang ia buat tidak mampu menahan semua pedang yang kukembalikan padanya. Dan akhirnya pedang-pedang itu menghujaninya. Setelah tubuhnya penuh dengan hujaman pedang Ophiucus tersenyum.

“Ini belum berakhir Ketsueki, kita akan berjumpa lagi dan kau akan bersujud di hadapanku… Teman.~”

“HAHAHAHA!~

Kemudian ia menghilang.

Selesai sudah. Itulah yang kupikirkan, aku tak menyangka melawan Ophiucus akan semenakutkan itu. Jika saja tidak ada ayah dan ibu aku sudah berakhir disini.

“Maka dari itu kau harus menjadi lebih kuat lagi bukan Ketsueki ?” suara ayah ibu yang berbisik dikepalaku.

“A-yah, I-ibu.”

“Maafkan kami yang membiarkanmu terus sendirian. Tapi mulai sekarang kami tau kau tak akan sendirian lagi kau telah berubah Ketsueki.”

“Tidak Ayah Ibu, harusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa melindungi kalian.” Air mataku mulai mengalir. Entah sudah berapa lama aku tak merasakan perasaan ini. Suara ayah dan ibu seperti memelukku, membenamkanku dalam perasaan rindu yang dalam.

“Sekarang kau harus pergi melanjutkan perjalananmu, kami akan selalu bersamamu. Kau memang anak Kebanggan kami Ketsueki.”

“Terima Kasih Ayah-Ibu. Selamat Tinggal.”

Setelah mengucapkan itu, aku membuka mataku dan Pisces berada dihadapanku, menatapku dengan senyuman bangga.

“Rasa cinta dapat menimbulkan kebinasaan dan kebijakan. Namun kau berhasil memilih kebijakan dan merubahnya menjadi kekuatan. Ketsueki, perjalananmu di Manjusha telah berakhir.”

Kebijakan­...