Chapter 1: Fotia, The Land of Roaring Flames

Percikan kecil
Memulai api hebat
Di hutan besar

Panas.

Rasa hangat menyelimuti tubuhku, membangunkanku dari tidur yang terasa sangat lama ini. Keringat mulai mengumpul di setiap sudut kulitku, pikiranku mulai kacau dan memaksaku untuk segera mencari tempat lain yang lebih dingin. Tapi di mana aku dapat menemukannya di gurun yang tandus ini? Di mana aku bisa mencari perlindungan dari matahari yang membakar hidup-hidup?

Jalan.

Yang bisaku lakukan hanyalah berjalan. Aku mengangkat diri, melirik kiri-kanan, penglihatanku mulai memburam. Apa yang kupikirkan? Hanya berjalan. Kakiku melangkah maju, mengikuti nafsu tubuh yang sudah tak tahan lagi dengan keadaan ini. Melangkah maju, tak kenal arah, tak kenal tujuan. Bola api di langit seakan-akan menertawakan keadaanku yang pedih, ditemani awan-awan tipis yang bahkan tak menyentuhnya.

Perjalananku serasa tak kenal waktu, serasa sangat panjang… Sangat panjang…



……

Bangunlah.

Lupa waktu.

Lupa tujuan.

Lupa diri.

Aku terbangun dikelilingi manusia-manusia berbaju berbagai varian warna merah, dari yang termuda hingga tertua. Terdengar kehidupan yang membara, terdengar teriakan bocah yang berlarian kesana kemari. Wajah-wajah yang memandangku dengan beragam emosi: bingung, skeptis, bahkan jengkel.

Apakah aku seseorang yang tak diinginkan di sini? Apakah aku melakukan suatu kesalahan sebelumnya terhadap mereka? Aku mengangkat badanku, mendorong diri dengan kedua tanganku. Betapa kejutnya diriku ketika ada yang membantuku sampai bisa berdiri lagi.

Sejuk...

Aku berada di desa. Desa berpohon dan berbangunan sederhana di tengah-tengah gurun pasir. Dan desa ini sangatlah berbeda dengan desa-desa yang kukenal sebelumnya.

Desa ini benar-benar hidup.

Tawaan, senyuman. Orang-orang melakukan gerakan yang tak dapat kupahami maksudnya. Kudengar dentuman berirama, membuat desa ini terasa memiliki jantung besar yang berdebar-debar. Ingatanku serasa ingin kembali, sesuatu yang penting, sesuatu dari dahulu kala mulai memasuki pikiranku…

PANAS!

Mukaku terasa terbakar, tanganku memegang wajah dengan gegabah, ingin mendinginkan kulitku. Tapi yang dapat kurasakan hanyalah permukaan licin dan keras, menutupi raut muka yang kesakitan. Apapun yang tadinya ingin teringat kembali menghilang, tergantikan oleh kesakitan dan teriakan sekaratku.

Topeng terkutuk ini menahanku dari mengangkat kembali masa lalu.

Aku bahkan tak ingat kapan dan kenapa aku memakainya; apakah ketidaksengajaan? Apakah ada yang memasangnya? Satu minggu, satu bulan, satu tahun yang lalu?

Yang kuketahui hanyalah bahwa ia menutupi wajahku dengan sempurna. Aku tak mengerti bagaimana aku dapat melihat; terakhir kali kutatap diri dalam bayangan kaca, yang tercermin adalah topeng dengan beberapa corak berwarna merah dan kuning tergambarkan pada permukaan yang licin, tanpa lubang mata, tak dapat kupahami maksud atau artinya.

Hal lain yang dapat kuperhatikan adalah rambut coklat tua seperti lumpur pada malam hari, panjangnya hanya mencapai leherku. Kulitku sedikit lebih berwarna ditimbang dengan wanita lain yang pernah kutemui sebelumnya, mirip dengan lelaki yang sering berjalan keluar tempat tinggalnya. Terdapat gambaran-gambaran yang sepertinya bukan alami, mungkin mirip dengan yang ada di topengku? Entahlah, aku tak memahaminya. Aku tak paham dengan baju pendek yang kugunakan, aku tak paham kenapa aku memakai sarung tangan. Itulah diriku, diri yang tak bisa mengingat namanya sendiri.

“Namida, tangisan para bintang surga!”

Tanpa berpikir dua kali, kepalaku berputar, menghadapi sumber suara menggelegar tersebut. Ia memanggilku dengan sebuah sebutan yang tak pernah kudengar sebelumnya, namun entah kenapa aku merasa bahwa ia bermaksud untuk berbicara denganku. Apakah itu namaku? Suatu panggilan akrab, atau hinaan? Tak dapat kupastikan.

Mungil, muda, tapi ada suatu aura yang terpancar dari orang yang memanggilku itu. Seorang anak kecil berambut warna merah apel matang, dengan pedang raksasa yang melebihi badannya yang mungil itu. Di sampingnya ada satu orang lagi, sekiranya perempuan yang dari wajahnya terlihat seumuran denganku, memiliki hiasan di rambutnya yang mirip dengan anak kecil itu.

Tunggu, apakah itu tanduk di kepalanya si anak kecil?... Mungkin hiasan?....

Warga yang tadinya berkumpul di sekitarku tiba-tiba merundukkan badan, menunduk kepala sehingga yang masih berdiri hanyalah diriku dan dua pendatang itu yang menghampiri. Dibalik topeng yang kugunakan, wajahku seakan-akan kebingungan dengan semua yang sedang terjadi di sekelilingku.

“Namida?”

“Ya!” balas anak kecil, “Nama yang diberikan oleh ibu-bapakmu, nama yang dibisikkan dalam mimpi mereka oleh Pisces sendiri!... Ya… Walaupun mungkin kalau kami yang memilih, bisa lebih spektakular… Bayangkan, Chante-peta, pemilik hati yang membara! Atau Homa, terlahir dari api yang suci!”

Apa maksudnya…?

“Meski kami setuju denganmu, Aries, Pisces sudah memikirkan nama yang cocok untuk kedua pahlawan bermalam-malam lamanya,” membalas rekannya yang lebih tua, “Lagipula, Namida sudah sangat cocok. Kami punya banyak harapan dari dirimu, wahai Penabuh Bumi.” Ia menunduk kepalanya, senyuman lebar terpasang di wajahnya.

Aries… Pisces…

Penabuh Bumi?...

Tak ada satupun istilah yang keluar dari mulut mereka yang dapatku pahami, yang ada hanyalah bertambah pertanyaan yang berkumpul di pikiranku. Apakah aku boleh bertanya kepada mereka?

“Siapa-”

“Ah, pasti kamu punya banyak pertanyaan, lebih baik kita masuk ke kuil dulu,” potong temannya Aries, “Leo juga menunggumu di sana. Mari?”

Tanpa memiliki pilihan lain, aku mengangguk kepala, mengikuti langkah mereka, menjauhi kerumunan warga yang sekarang hanya memandang, lalu mulai membubarkan diri. Ada beberapa anak-anak yang juga ikut, mendekati Aries dan rekannya yang mengajakku. Bocah yang berkumpul berlarian mengelilingi kami, bagaikan lalat yang tertarik dengan buah apel yang mulai membusuk. Aries berkata sesuatu yang tak kupahami, lalu anak-anak bersorak keras. Beberapa juga mengantri di depan rekannya Aries, yang meletakkan tangannya pada kepala mereka satu-satu, lalu memberantakkan rambutnya.

Untuk apa semua ini? Kenapa bocah tersenyum oleh kata-kata Aries, kenapa mereka terlihat bahagia setelah rambutnya diacak-acak oleh kakak yang belum kutanyakan namanya itu?

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kita sampai di depan sebuah bangunan berbentuk kubus, beberapa api jingga berkedip-kedip dalam wadah. Kawanan bujangan sudah berpisah dengan sendirinya atau ditarik oleh warga yang lebih dewasa. Mungkin mereka tak diperlukan di sini. Yang ada sekitar sini hanya orang-orang dengan berpakaian panjang, dengan kepala tertunduk dan sepertinya membisikkan kata-kata yang tak dapat kupahami artinya.

“Ayo, masuk, masuk!” panggil Aries. Bagian dalam dari tempat ini juga diterangi oleh cahaya api, tapi ada yang berbeda dari api-api ini. Serasa ada hal yang tidak biasa, tidak alami. Bahkan kehangatan yang mulai memeluk diriku tak merasa seperti kehangatan matahari.

Ada keanehan yang di luar akal.

Tapi aku tetap berjalan, mengikuti Aries dan kawannya maju semakin ke dalam, sehingga kita mencapai ruangan yang luas dengan udara yang penuh dengan wangi halus kayu yang terbakar.

“Tamu kita sudah sampai, Sagittarius?” bertanya suatu sosok yang duduk di sebuah kursi, tepat berseberangan dengan arah kita masuk.

Ah… Berarti nama dia Sagittarius…

“Sudah kita bawa dia kemari, Leo,” balas Sagittarius, seperti dugaanku, “Seperti yang warga ceritakan, dia ditemukan pingsan beberapa jarak dari desa… Tentunya tak membutuhkan setetes air atau sepotong makanan pun, ia masih selamat. Kan, perkiraan kami benar. Kami tak pernah salah dalam menaruh keyakinan akan kemampuan pada sesuatu.”

Aku ditinggalkan oleh Aries dan Sagittarius, yang bergabung dengan Leo di seberang ruangan, sehingga dapat melihat dengan jelas sosok yang belum sempat kujumpa sebelumnya. Leo terlihat seumuran dengan Sagittarius, memberikan aura seorang pangeran muda yang memimpin kaumnya selagi raja tak ada. Kulitnya hitam manis, lebih gelap dengan yang dimiliki diriku, dengan rambut acak-acakan yang sewarna dengan rekan-rekannya.

“Kenapa-”

“Duduklah dulu, lalu kita akan menjawab semua pertanyaanmu,” kata Leo. Apakah aku disuruh untuk duduk di lantai? Hanya ada tiga kursi di ruangan ini, dan mereka sudah ditempati oleh mereka-

Pada saat aku berpikir untuk duduk, ada sesuatu yang tersentuh jauh sebelum aku mencapai tanah. Melihat ke bawah, ternyata ada kursi yang tiba-tiba sudah ada. Entah dari mana datangnya, entah dibawa oleh siapa. Aku melirik kiri-kanan dengan rasa kaget, mencari sumber kursi ini, tapi tak bisa kuputuskan asalnya yang pasti.

Aku harus bertanya.

“Kalian siapa?”

Leo tersenyum, tapi bukan seperti senyuman Aries ataupun Sagitarrius. Senyuman tuan ketiga ini memberi rasa bahwa ia mengetahui segalanya, seakan-akan ia yang memimpin kawanan mereka, mungkin juga ia adalah ketua desa ini. Apakah hanya firasatku saja? Atau mungkin memang seperti itu kenyataanya?

“Kami adalah Leo, namun kita adalah para bintang surga elemen api yang membara, api yang membangkitkan semangat dan dinamika kehidupan.”

Kenapa ia memanggil dirinya dengan kata ‘kami’?... Bintang surga?... Elemen api?...

Sebelum bisa bertanya lagi, Leo sudah melanjutkan jawabannya.

“Jauh sebelum anda mencapai desa ini, telah terjadi sebuah peristiwa yang mengubah tata kehidupan di dunia ini… Dikarenakan seseorang yang haus kekuatan, jahat, memanfaatkan bangsanya sendiri demi mencapai kekuatan yang lebih tinggi. Ia bermaksud untuk mengalahkan kita, para bintang surga...”

“Namun, kita juga punya cadangan, yaitu kalian,” potong Sagitarrius, “Kalian yang telah dianugerahi kekuatan kita semua, kalian yang mewakili kita dalam menyelamatkan dunia ini.”

Kalian?... Penjahat?... Menyelamatkan?...

“A-Aku rasa kalian keliru,” bingungnya diriku, mulai merasa bahwa ada sesuatu yang salah dari apa yang kudengarkan, “Aku hanyalah seseorang yang lupa ingatan, tak memiliki keinginan ataupun tujuan. Menyelamatkan dunia? Mewakili… Bintang dari surga?... Apa maksudnya semua ini?”

Mereka bertiga lalu saling menatap, ruangan menjadi sunyi, hanya diisi suara percikan api.

“Ophi menyusahkan kita aja,” keluh Aries dengan marah, mengangkat pedang raksasanya seakan-akan menantang seseorang yang tak ada di ruangan ini, “Apa tak bisa kita hancurkan saja kutukannya itu? Cuman terbuat dari porselen, apa susahnya?!...”

Tanpa memberi peringatan, Aries sudah berlari menujuku, setengah ruangan dilewati sebelum aku memperhatikan bahwa ia sudah berdiri. Aku merasakan dentuman yang sangat kuat di wajahku, dan suara logam yang membuat percikan. Bahkan belum berkedip pun, sudah banyak yang terjadi padaku, namun tak ada yang berubah. Aku masih merasakan topeng di wajahku, Aries berdiri di hadapanku sambil menghela nafas dengan kuat.

“Cukup sudah, Aries! Kamu hanya akan melukai pahlawan kita!” meraung Leo, Sagittarius pun menggelengkan kepala. Namun kurasa bukan karena Aries melakukan tindakan yang mendadak, namun mungkin karena topengnya tak hancur.

Aries menatapku, atau mungkin lebih tepatnya topengku, dengan raut wajah yang mengancam.

“Berarti kami harus mengajarkanmu satu dua hal terlebih dahulu…”



Tapi pertanyaanku masih banyak!

***

Jam-jam telah berlalu. Aries berusaha mengajarkanku cara bertarung, Sagitarrius meneriakkan kata-kata dari samping, dan Leo hanya memandang dari kejauhan.

Tunggu, buat apa aku dilatih bertarung? Aku bahkan tak meminta diajarkan… Dan satu lagi, aku sama sekali gak bisa fokus karena keingintahuanku!

Aku melihat Aries mengangkat pedangnya lagi, yang sudah tertutup kain agar tak dapat memotong tubuhku. Gerakannya tak pernah berubah dari pertama kali ia menyerangku, tetap selincah dan sekuat yang dahulu. Hampir mustahil aku menghindari, dan bahkan jika berhasil, ia tetap bisa mengejarku dengan serangan yang berikutnya. Apakah aku hanya akan lompat-lompat terus seperti kelinci yang ketakutan?

“Agh!”

“Kenapa kamu melarikan diri terus?!” teriak Aries yang sepertinya mulai kesal, berdiri di atasku, “Hadapi kami seakan-akan kami musuhmu, brengsek!”

Hadapi kamu? Musuh? Apa-apaan?!

Sikluspun diulangi lagi. Serangan, pelarian, kekalahan. Bukannya aku mendapatkan pelajaran apapun, yang ada tambah kekesalan, tambah rasa ingin membunuh lawanku ini. Tapi tak mungkin bisa; aku tak bersenjata, tak berilmu bela diri. Bintang surga katanya? Apakah maksudnya sebuah dewa atau semacamnya? Mana mungkin saya mengalahkannya?

Sebaiknya aku pergi secepatnya…

Tapi badanku pegal…

“Hei, Namida!”

Pandanganku terpusat pada yang memanggil; Sagittarius, yang dari tadi memberi petunjuk yang sedikit berguna, namun tak begitu mempan pada hasil akhir. Aku menatapnya dengan mata yang kelelahan, tapi pasti ia tak bisa melihatnya.

“Kamu kuat, bukan karena kamu tak takut, tapi karena kamu tetap kuat menjalankan terus meskipun takut!”

...Huh?...

Memang, aku sangat ketakutan, melihat Aries sudah memasang kuda-kuda untuk menyerangku lagi, siap menambahkan luka memar pada badanku untuk kesekian kalinya. Aku takut untuk merasakan kesakitan, takut melihat wajah yang marah itu menatap diriku. Aku takut mendengarkan kata-kata yang menghina diriku yang tak bisa apa-apa.

Kali ini aku berdiri. Salah satu alis Aries naik, dan raut wajah yang asalnya geram menatap aku yang payah ini menjadi senyuman setengah-durjana, yang, meski masih menakutkan, jauh lebih baik daripada dirinya yang sebelumnya.

Kali ini aku takkan lari. Kedua tanganku terkepal di depanku, ototku mengencang, dan pernafasanku mulai terkontrol.

“HADAPI AKU, NAMIDA-KUN!”

Kali ini aku akan melawannya.

Aries bergerak jauh lebih cepat daripada serangan-serangan sebelumnya, namun mataku kini mampu untuk melacaknya. Kiri, kanan, gerakkan acakan, dahsyat, tetapi memiliki tujuan yang pasti. Ada sebagian diriku ingin lari, tapi sekarang aku takkan mundur. Satu kaki terpasang dengan kuat di belakang badanku, aku mengangkat tinju…

“DUAR!”

Abu yang terkumpul di sekitaran tanah di mana aku berdiri berterbangan sejenak. Bajuku terhembus angin kuat dari gerakkan kuat yang dihasilkan pedang Aries. Rasa sakit masih menusuk-nusuk badanku, aku menggertakkan gigi dengan kuat, mencoba menahan kesakitan yang mengalir di seluruh badanku.

Tapi aku masih berdiri. Aku belum kalah.

Aku berhasil menangkap pedang Aries dengan tangan kosong.

“Krak…”

Ada sebuah suara, sepertinya berasal dari topengnya, namun aku tak terlalu memperhatikan dulu. Aries melihatku dengan kaget, masih memegang pedangnya. Aku tak memiliki banyak waktu untuk menikmati hasil yang kudapatkan. Sebelum ia dapat mengencangkan pegangannya, aku melempar pedangnya ke samping. Rasa takutku sudah menghilang, aku telah menang kali ini.

“Plak, plak, plak.”

Aries menepuk tangannya, terjatuh di tanah dan memandangku dengan takjub.

“Manusia tangguh yang sebenarnya tersenyum dalam masalah, mengumpulkan kekuatan dalam kesulitan, dan menjadi berani dalam renungan.”

Satu jempolan diberikan olehnya, dengan senyuman termanisnya selama satu hari ini. Akupun merasakan perbedaanya dalam diriku, seakan-akan sesuatu yang terkuburkan sudah diangkat kembali, mulai bangkit dari kegelapan.

Keberanian…

***

Setelah sesi latihan kemarin, aku tertidur pulas di sebuah rumah kecil di desa api ini. Keluarga yang menempatinya terlihat kurang berkepemilikan, namun sepertinya mereka senang-senang saja menerimaku di antara mereka. Tak dapat kupahami, tapi malam kemarin aku terlalu lelah untuk memikirkannya.

Pagi ini, Sagittarius membangunkanku. Ia terlihat sama dengan hari sebelumnya, berpakaian coklat yang sederhana namun tetap berkesan tradisional, dan membawa dengannya sekeranjang buah-buahan. Keranjangnya ia berikan kepada pemilik rumah, yang dengan senang hati menerimanya lalu memelukku sebelum berangkat.

“Tuan Sagittarius... “ mulaiku bertanya lagi, “Kenapa mereka mau menerimaku, meskipun memiliki rumah terkecil di desa, meskipun menerima buah saja mereka sampai bertangisan? Bukankah mereka punya masalah-masalah yang lebih besar untuk dipikirkan.”

“Ya, kalau itu karena kebaikan hati mereka, Nam,” jawabnya dengan santai, “Lagipula, mereka tak pernah mengeluh mengenai apapun. Yang penting tetap berusaha melewati tantangan, tak usaha terlalu repot memikirkan hal-hal yang menyedihkan.”

Tak memikirkan masalah-masalahnya?... Kenapa tidak? Harusnya masalah-masalah itu dihadapi kan? Bukankah itu yang diajarkan kemarin?...

“Hari ini, kamu akan bekerja.”

Bekerja?

Ada sesuatu yang cukup berat jatuh ke tanganku. Sebuah alat sepertinya, dengan genggaman kayu yang panjang, dan ujung datar yang terbuat dari logam.

“Itu adalah sekop. Kamu menggantikan tim penggali sumur untuk sementara.”

Sagitarrius lalu menunjuk ke sekumpulan orang yang berusaha untuk menggerakan tanah ke samping, membuat sebuah lubang yang lebar. Membutuhkan beberapa lelaki yang cukup tangguh untuk pekerjaan ini sepertinya, tapi...

“Membuat lubang? Mudah!”

Apa susahnya?

Setelah diberitahu oleh Sagittarius, para pekerja minggir dan memberiku ruang untuk menggali. Ini tak sesulit menghadapi Aries kemarin, hanya perlu menusuk tanah, mengangkat, melempar, Tusuk, angkat, lempar. Tusuk angkat lempar. Terus menerus sampai tercipta lubang.

Tusuk, angkat, lempar.

Tusuk, angkat, lempar…





Mana airnya?

Setelah bekerja cukup lama, keringat mulai berkumpul di dahi, lubang sudah cukup dalam dan lebar, masih belum terlihat setetes pun air dari perut bumi. Melihat ke atas, semua pekerja mulai memandangku, seakan-akan menunggu sesuatu dariku.

“Tak ada air di sini! Mungkin harus mencari di tempat lain!”

Daripada membuang waktu di sini, mending cari tempat lain kan?

Setelah diangkat ke permukaan lagi, para pekerja membantuku mencari titik lain yang mungkin memiliki air. Lalu tusuk, angkat, lempar, tusuk angkat lempar… Tapi di situ pula tidak ada air yang muncul menghampiriku. Yang ada hanya rasa lelah setelah membuat lubang dalam tanpa hasil.

Lalu diulangi lagi, dan lagi, dan lagi… Tapi berkali-kali aku menggali, berkali-kali gak ada air. Pagi berubah menjadi siang, dan siang berubah jadi sore. Seharian membuat lubang menyiakan waktu, seharian hanya buang tenaga saja. Rasa marah mulai berkumpul dalam diriku, dan aku langsung mencari Sagittarius untuk meminta penjelasan.

Kutemukan dia bersandar di bawah bayangan pohon, menikmati matahari terbenam. Aku melemparkan sekop ke hadapannya, bernafas keras kecapean. Ia hanya memandangku dengan ingin tahu, namun tak peduli dengan lagakku yang seakan-akan ingin menghancurkan sesuatu.

“Kenapa kamu menyuruhku membuat lubang-lubang gak guna?!” kesalnya diriku, “Kenapa enggak mengajarkan apapun padaku? Bukannya kemarin kamu yang membantu menghadapi Aries, kenapa sekarang malah nyiakan kesempatanku untuk mencari tahu sesuatu?!”

Ia terdiam, lalu menatap kembali senja. Aku yang kehabisan kata-kata hanya mampu untuk duduk, berusaha mengumpulkan kembali energiku.

“Kalau anda melalui neraka, teruslah berjalan.”

Apa-apaan?!

Kesalnya diriku, lalu mengangkat kembali sekop dan mulai menggali. Kemarahanku tak terkendalikan, namun aku sudah muak dengan teka-teki dari orang, atau dewa, atau apapun dia ini. Gali terus, tusuk, angkat, lempar, tusuk, ANGKAT, LEMPAR, TUSUKANGKATLEMPARTUSUKANGKATLEMPAR-.

Sudah lelah lagi…

Sama seperti lubang-lubang yang lain, sudah dalam, sudah lebar, tapi tak ada air. Tak ada yang terangkat di permukaan. Tetaplah tanah kering, tetaplah pasir yang membuat kulit gatal. Air mata mulai berkumpul di mataku, keinginanku hanyalah untuk berhenti. Untuk apa aku teruskan pekerjaan bodoh ini? Apa mungkin ada air di desa bodoh ini? Desa di tengah-tengah gurun pasir...

Teruslah berjalan.



Mungkin. Mungkin saja ada air, asalkan aku terus menggali.

Tanpa istirahat dulu, tak bisa keluar dari lubang sendirian, aku bekerja terus. Menggali jauh lebih dalam daripada sebelumnya, melawan rasa lelah yang menghantui tubuhku. Yang ada dalam bayanganku adalah berbagai macam masalah, berbagai macam keluhan. Tapi semuanya kuhapuskan, terganti oleh suatu harapan bahwa pada akhirnya, asalkan terus berlanjut, semua akan baik-baik saja.

“Krak…”

Aku akan menemukan air.

“Krak…”

Aku akan membuat sebuah oase di tengah gurun pasir.

Tusuk, angkat, lempar.

Tusuk, angkat, lempar.

Tusuk-



“CORRRRR!!!”

Badanku yang tertutup tanah dan pasir langsung bersih tak ternodai, tergantikan oleh air basah yang menyegarkan tubuh. Diriku tertawa histeris, melemparkan sekop ke samping lalu mulai membasahi diri dengan air yang terus mengalir keluar. Lubang mulai terisi air, mencapai lutut, mencapai badan, mencapai kepala. Sejenak panik karena tak bisa renang, namun tiba-tiba ada tali tebal yang menyentuhku. Melihat ke atas, hanya ada lubang kecil dengan sedikit cahaya, tapi aku harus mencapainya.

Aku memanjat terus, mempercayai bahwa akan ada keselamatan ketika aku mencapai atas. Alhasil, aku disorak bahagia oleh tim penggali, yang mengangkatku keluar, melemparku ke udara, menangkap, melempar, menangkap. Hura-hura yang membuatku bahagia, membuat semangatku kembali. Semua kelelahan yang aku lalui ternyata tak sia-sia. Rasa sakitnya setelah berusaha tak menjadi beban lagi.

Mereka meletakkan diriku di hadapan Sagittarius. Matanya seakan-akan berkelip-kelip, mirip dengan bintang-bintang di langit malam yang membentang sekarang.

“Optimisme adalah keyakinan yang berujung kesuksesan. Tak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan kepercayaan diri sendiri.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, terjatuh di tangannya yang sudah siap untuk menangkapku.

“Sekarang istirahatlah… Kutukannya sedikit lagi akan rusak…~”

Optimisme...

***

“Terbangun juga akhirnya, anakku.”

Sepertinya pagi ini aku terbangun di kuil, di hadapan Leo sendirian. Tak ada tanda-tanda Aries maupun Sagittarius, membuat keadaan sedikit canggung buatku. Meskipun aku telah memahami keberanian dan optimisme, kenapa aku merasa bahwa Leo itu jauh lebih penting daripada diriku? Kenapa aku yang terpilih untuk mengalahkan Ophiucus? Kenapa bukan mereka saja yang mengalahkan siapapun orang itu?

“Anakku, apakah kamu tahu bahwa kami adalah Bintang Surga kebaikan?”

Aku menggeleng kepala, memilih untuk berdiam dulu dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan olehnya.

“Kita semua, ke-12 Bintang Surga, masing-masing mewakili satu sifat. Kamu telah melihat dan mempelajari apa yang diwakilkan oleh Aries dan Sagittarius, dan kamu akan juga mempelajari dari kami apa yang dapat kami ajarkan… Karena sifat diri kami ini, kami tak bisa menahan dari memberitahumu tentang ini, tapi kami tak malu akan hal itu.”

Ia memejamkan matanya, lalu setiap obor di ruangan ini menguat apinya, lalu berubah menjadi warna-warni yang berbeda. Setelah dihitung, ternyata ada dua belas, masing-masing mewakili satu bintang surga… Mungkin.

“Kita, bintang surga elemen api, tak pernah memandang masa lalu terlalu lama,” lanjutnya, tiga api yang berada tepat di belakangnya lebih terang daripada yang lain, “Kita ingin masa depan yang cerah, selalu mengharapkan kehangatan hari baru dari mentari yang bersinar kembali. Ketika kita mendapatkan masalah, melakukan kesalahan, tak harus dipendam, tak harus direnungkan lama-lama. Kita langsung menghadapinya dengan cara kita masing-masing…”

Membuka kembali pandangannya, semua api pun kembali ke asalnya, dan Leo menatapku dalam-dalam, membuatku menelan ludah dengan gugup.

“Kamu mengerti maksud kami?”

“...Mungkin…?”

“Maka itulah jawabanmu untuk sementara,” desau Leo, yang mulai berdiri dan merentangkan lengan serta kakinya.

...Berarti…

...Berarti dia takkan menjawab pertanyaanku mengenai masa laluku?...

“Raut mukamu sepertinya tak puas.”

“Apa maksudmu Leo?” diriku terasa bergejolak, serasa titik didih yang terlalu tinggi untuk tetap sabar menghadapi dewa ini, “Jadi aku harus jalani saja terus, tak mengenal namaku, memperbaiki masalah kalian tanpa memperdulikan diriku?”

“Apakah kata-kata kami kurang jelas?”

“Apa- Hei! Katamu akan diberitahu mengenai masa laluku!-”

“Dan kami merasa bahwa perihal tersebut takkan membantumu dalam perjuanganmu ke depan. Perjalananmu di Fotia sudah selesai, Namida, tak perlu engkau berlama-lama lagi di sini.”

Badan Leo sekarang tegak, ia memandangku dengan wajah yang karismatik, tapi dalam diriku hanya menganggap dirinya menyebalkan. Bukan, lebih dari itu. Aku sudah muak dengan dirinya yang laknat, yang menghancurkan harapan apapun dari dalam diriku yang ingin lebih mengenali asalku.

Dia brengsek.

Tinju terbang sebelum aku berpikir.

Apakah aku pernah berpikir sebelum bertindak?...

....

Mungkin tidak.

Tak mirip dengan Aries, pukulanku mengenai Leo dari lemparan pertama. Ia tak menghindar, ia tak menyentak sedikitpun. Saya mengenai dadanya tepat di tengah-tengah, terasa tubuhnya di jari-jariku.

Tapi ia juga tak bergerak. Ia tak mundur, ia tak jatuh. Leo berdiri kokoh, tubuhnya yang serasa dinding batu yang kuat, panas tubuh yang mirip dengan api serasa membakar tanganku. Raut wajahnya gak berubah ketika aku teriak kesakitan, ia tak terlihat marah ataupun senang dengan tingkah lakuku, Leo hanya berjalan menuju pintu keluar. Mataku mengikutinya dengan marah, cahaya yang memantul darinya seperti percikan api yang membara.

“PEMBOHONG!” teriak diriku, melempar kerikil yang ada di dekatku, dengan mudahnya ditangkis tanpa memandang ke arahku. Rungutan berbunyi dalam tenggorokanku, dan aku akhirnya berdiri lagi untuk mengejar bintang surga yang berlagak santai, tak merasa terganggu dengan diriku yang mulai berjalan dengan hentak melingkari dirinya.

“Untuk apa kalian memilihku hah? Apa alasan kalian, wahai bintang surga, memutuskan bahwa aku yang cocok untuk jadi budak tempur kalian?! Masa laluku saja tak kalian berikan, untuk apa aku mengorbankan diriku untuk tujuan yang gak jelas ini?!”

Leo tetap berjalan, sekarang kita sudah mulai mendekati desa. Namun ocehanku tak berhenti, kumasih ingin mengeluarkan keluhanku.

“Lihatlah desa ini! Mereka sepertinya baik-baik saja, untuk apa saya mengalahkan penjahat yang menghantui kalian kalau keadaan udah damai?”

Tiba-tiba Leo berhenti, dan aku ikut terdiam. Apakah ia mulai mengerti perasaanku? Mungkin dia sudah nyerah dengan gangguan dariku? Pikiran itu membuatku merasa puas, dan di balik topeng aku mulai tersenyum. Namun, Leo bukannya menjawab, tapi ia berlutut, menghadapi sesuatu, atau justru seseorang, yang tak aku sadari kehadirannya.

Seorang anak laki-laki kecil, dengan baju merah yang sudah lama pudar warnanya, memiliki robekan akibat bermain kasar, dan wangi yang kurang sedap keluar dari tubuhnya. Kumelihat Leo mengambil sesuatu dari bajunya, lalu mengulurkan tangannya, di telapak tangan sebuah buku bergambar di sampulnya. Anak itu menerimanya dengan mata yang bersinar, dan cepat-cepat maju untuk memeluk sang bintang surga. Ada kehangatan yang berbeda daripada api ataupun matahari. Kehangatan yang serasa mirip dengan yang kurasakan ketika menginap di rumah keluarga pada malam lalu dan malam sebelumnya.

“Siapakah dia?” kutanya.

“Ia adalah yatim piatu, salah satu dari sekian yang ada di desa ini…”

Kuterdiam, tak mengerti maksud dari istilah yang digunakan oleh Leo, namun ingin mendengar lanjutannya. Sang bintang surga melepaskan anaknya, membiarkan dia pergi menjauh untuk menikmati hadiah yang diberikan.

“Ketika seseorang kehilangan sosok orang tua dalam hidupnya… Ketika tak ada lagi yang menjaganya dan merawatnya sampai menjadi dewasa… Siapa yang akan membantu?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaanya, namun hati saya mulai merasa tak enak.

“Namida, sedamai apapun dunia ini… Pasti akan ada kesedihan dalam suatu bentuk yang mungkin kamu tak sadari kalau hanya melihat gambarnya secara kasar. Tak bisa seseorang menilai sebuah buku dari sampulnya, tak ada orang yang bebas dari beratnya kehidupan ini…”

Leo kembali berdiri, menepuk-nepuk lututnya dari debu yang menempel, dan menghela nafas dengan halus.

“Kita, para bintang surga, bisa melakukan banyak hal… Tapi tak termasuk menghidupkan yang sudah meninggalkan dunia ini. Mereka yang sudah melanjutkan perjalanannya ke kekuatan yang jauh lebih besar… Kita hanya bisa membimbing mereka ketika hidup, menggunakan kekuatan kita untuk mengelola dunia ini dengan baik.”

Akhirnya Leo memandangku dengan matanya yang seindah api unggun pada malam yang gelap gulita. Titik harapan dalam kesengsaraan.

“Kebaikan adalah wujud kami dalam benak manusia… Kebaikan untuk membantu mendorong mereka yang sudah putus asa, menuju harapan yang cerah…”

Lalu ia mulai berjalan lagi, kedua tangannya terlipat ke belakang, memancarkan kembali sinar seorang pemimpin.

Aku merinding.

Dalam diriku ada rasa bersalah yang luar biasa, karena telah menyerang dan memarahi seseorang yang baik. Egoisme yang menyelimuti pikiranku membutakan diriku dari kenyataan yang lebih pahit dalam dunia ini. Aku bisa memandang lebih jelas anak-anak yang pada hari pertama menghampiri Sagittarius dan Aries di kejauhan. Mereka juga berpakaian seperti anak yang tadi diberi buku oleh Leo. Mereka bermain-main bersama dan tersenyum, meskipun kehidupan telah merenggut sesuatu yang sangat penting bagi mereka.

“Kenapa kamu harus peduli?~”

Terkejut, saya melihat kiri-kanan. Suara bisikan yang sangat dekat, namun tak ada yang menghampiriku. Aku sudah memasang kuda-kuda, tapi tak ada yang aneh kecuali yang ada dalam pikiran.

“Yang penting kan kamu harus mengetahui masa lalumu kan? Mending fokus pada tujuan pertamamu di desa ini…~”

Pikiranku mulai acak-acakan, seperti ada banyak hal yang melintas pada saat yang bersamaan. Aku harus fokus… Harus fokus…

Aku mulai berjalan cepat menuju Leo.

“Bagus… Semangatmu memang tak terkalahkan, Namida-kun… Cepatlah, paksakan Leo untuk memberimu jawaban… Jangan berteka-teki lagi…~”

“Leo!”

Sang bintang surga berhenti, dan dengan lamban memutarkan badan.

“Aku…”

“Aku…”

“Mau…”

“Mau…”

“Minta…”

“Minta…”

“Jawaban!”

“Maaf!”

Tiba-tiba semua kekacauan dalam otakku berhenti, seperti mata badai yang tenang. Apapun yang merasuki pikiranku sekarang lenyap, yang ada hanyalah satu hal yang ingin kusampaikan.

“Aku mau minta maaf… Telah menyerang dirimu dua kali… Lalu memarahimu… Hanya karena aku tak mendapatkan apa yang kuinginkan, bukan berarti harus menyakiti orang lain… Aku tadinya tak mengetahui keterpurukan yang dimiliki warga desa… Dan aku juga tak mengetahui kalau kamu begitu kerja keras untuk mendukung mereka, membantu mereka untuk tetap hidup walaupun tak semuanya berjalan lancar.” Aku menunduk kepalaku, menggelengkannya.

“Sekarang aku mengerti apa yang kamu ingin kulakukan. Kejahatan bukan hanya berada dalam bentuk penjahat yang kamu ceritakan… Tapi kejahatan adalah sesuatu yang menyelip dalam kehidupan kita semuanya. Oleh karena itu, kita semua bisa menjadi pahlawan…”

*Krak*

“Tak harus jadi Leo, bintang surga kebaikan…”

*Krak*

“Tak harus jadi Namida, sang tangisan bintang surga…”

*Krak*

“...Untuk menyelamatkan orang lain dari kegelapan.”

Tiba-tiba cahaya putih menutupi pengelihatanku, dan aku mendengar suara pecahan kaca yang sangat dekat. Tanganku berusaha untuk menutup mata, tapi sepertinya sumbernya jauh lebih dekat daripada tangan-tanganku. Sekian detik setelahnya, semua kembali normal, tapi ada sesuatu yang berbeda…

Mulutku bisa merasakan udara sekitar, sama seperti tanganku. Kupegang muka, memastikan apabila ada apapun yang terjadi.

Mata… Masih tertutup…

Tapi… Mulut dan dagu… Sudah terbuka!

Kumenghela nafas dalam-dalam lewat lubang yang sudah terciptakan, lebih terasa segarnya daripada ketika ditutup. Leo memandangku dengan senyuman lebar yang ramah. Sepertinya cahaya tadi juga mengundang bintang surga yang lain; Sagittarius menepuk tangannya dengan meriah, Aries berseru bahagia sambil mengangkat kedua lengannya tinggi tinggi.

“Kekuatan adalah menyakiti orang lain, namun setelahnya meminta maaf. Kekuatan juga adalah tersakiti orang lain, tapi mampu memaafkannya.”

“Kebaikan tercerminkan dalam banyak bentuk Namida… Sangat mudah untuk memberi kebaikkan… Asalkan kamu memiliki niat untuk memulai.”

Kebaikan....

***

Tak lama kemudian, kami berempat berkumpul kembali ke dalam kuil, sepertinya untuk menandai berakhirnya perjalananku di desa ini. Tapi sebelum bisa berpamitan, ada sesuatu yang janggal selain topeng yang setengah hancur.

“Ini apa?” tanya diriku, mengeluarkan dua batang kayu, yang tiba-tiba terpasang di ikatan bajuku.

“Ahhh, itu adalah peralatanmu dalam melawan musuh kita semua…” jawab Leo, mendekat lalu memeriksa batang-batangnya.

“...Sepertinya kutukan yang masih bersisa menghalangimu dari kekuatannya.”

“Apakah dia harus mengunjungi Virgo-chan dan rekan-rekannya?” tanya Sagittarius.

“Sudah dipastikan Sagi, itu kan sudah dijelaskan oleh Pisces,” menyela Aries, yang mulai mengayun-ayun pedangnya dengan irama yang hebat.

Ketiga-tiganya mengangguk, lalu memandangku. Aku lansung duduk tegak, siap menerima apapun yang ingin disampaikan.

“Seperti yang kamu pikirkan, perjalananmu di tanah Fotia ini sudah berakhir… Namun masih ada satu tempat lain yang harus kau kunjungi.”

Leo membuat gerakan menggesek di udara, tiba-tiba muncullah percikan-percikan api yang bersinar gembira. Mereka bergerak cepat namun teratur dalam satu wilayah persegi, dan akhirnya berhenti.

Sebuah gambar?...

“Ini adalah peta menuju destinasimu yang berikutnya Namida… Kuharap engkau suka perkotaan.”

Kota?