Chapter 4 – Desiderium



Langit mendung menutupi cahaya matahari pertanda akan turun hujan. Sambaran petir mengisi keheningan di sekitarnya. Seorang anak kecil yang memakai topi dan memegang tongkat sihir berdiri di bawah awan itu. Dia tersenyum lebar.

“Bagus! Akhirnya bisa diuji juga sihir yang aku buat seharian ini!”

Anak itu bernama Merlin, seorang penyihir muda jenius di salah satu akademi sihir bergengsi di Britonnium. Kali ini dia sedang menguji sihir memanggil badai saat hujan turun. Merlin kemudian mengambil gulungan yang berada di dalam tasnya lalu kemudian menaruh tangannya pada simbol yang tergambar pada gulungan itu.

Sambil mengucapkan kalimat sihir yang dia kerjakan, dia terlihat sedang memindahkan mana melalui telapak tangannya. Jenis praktik ini dilakukan untuk sihir eksperimental supaya mengurangi resiko kegagalan yang fatal dan bisa mempengaruhi nyawanya.

Kemudian dia mengangkat tongkat sihirnya ke arah awan gelap itu dengan percaya diri. Mana yang dipindahkan itu terbawa ke atas melalui tongkatnya dan mengenai awan. Seketika petir menghambar dengan besar dan keras. Hujan menjadi tambah lebat. Dari arah barat angin mengamuk dengan keras. Sihirnya berhasil dilakukan.

“Eureka! Sihirku berhasil. Saatnya melapor ke tuan pengajar nanti.”

Esoknya saat kelas, si pengajar mulai menerima laporan-laporan dari muridnya. Murid-murid di kelas itu jauh lebih tua daripada Merlin. Merlin merupakan pengecualian di kelas itu. Dia sudah mengambil kelas jauh di atas teman-teman sebayanya. Kejeniusannya inilah yang membawa dirinya jauh di atas penyihir rata-rata.

“Ah, Merlin! Kemarin aku lihat kau sedang mencoba sihir yang kamu buat itu bukan?” Luar biasa sekali. Tidak heran kalau kau akan diangkat sebagai archmagus kalau kau belajar lima tahun lagi. Dengan umurmu yang sekarang, ini adalah sebuah keajaiban!”

Sepulang dari kelas, dia pergi menuju perpustakaan agung untuk belajar kitab-kitab sihir kuno. Dia mempelajari itu untuk membuat sihir baru dari kumpulan sihir kuno yang terkenal menakjubkan. Namun saat di perjalanan menuju perpustakaan agung, dia melihat banyak penyihir masuk dari gerbang ibu kota dengan kondisi mengenaskan. Banyak dari mereka memiliki luka di tubuhnya. Matanya lebam, bajunya sedikit ternodai oleh darah. Mereka tidak mampu berjalan tegak seperti orang pada umumnya.

Dia memegang erat tali tasnya. Bayangannya penuh dengan pemandangan yang tak mengenakkan. Berita kemenangan pertempuran penyihir Britonnium dengan Honoo sudah menyebar luas ke seluru penjuru negara. Namun Merlin tidak menyangka bahwa akan jadi seperti ini para penyihir yang kembali dengan harus dibayar mahal. Merlin meskipun jenius, tetaplah saja seorang anak kecil yang belum dewasa. Itulah mengapa pemandangan yang ia lihat memiliki kesan tak elok baginya.

Sesampainya di perpustakaan agung, dia langsung meletakkan tas dan tongkat sihirnya pada meja tempat duduk kesukaannya. Dia suka duduk dekat jendela saat hari masih memiliki matahari di atas langit. Dia suka tempat itu karena cahaya matahari akan menerangi halaman yang ia baca melalui jendela dan kesan hangat yang diberikan oleh sang surya. Sembari duduk, ia melihat tanda sihir yang berada pada tangannya sambil membayangkan apakah ia juga akan seperti mereka.

Sesekali ia membaca buku sejarah benua Avalon. Ditulisnya adalah benua Avalon dahulu merupakan tanah yang tandus dan penuh peperangan. Hanya ada orang-orang yang saling menghabisi satu sama lain tanpa alasan. Dunia menjadi kacau saat itu. Namun suatu masa, para dewa memberi anugrah bagi Avalon yaitu kristal Amahagane. Kristal kahyangan ini memberi hidup pada tanah tandus Avalon saat itu. Para dewa membagi kekuatan Amahagane kepada tiga orang. Tiga orang inilah yang menjadi pendiri kerajaan-kerajaan yang hingga kini berdiri menjadi fondasi umat manusia.

Sejarah tentang hubungan Avalon dan Amahagane membuat Merlin tertarik sejak lama. Ia memiliki mimpi untuk meneliti Amahagane dan kekuatan yang dimilikinya. Ilmu tentang Amahagane ini akan menjadi bermanfaat untuk dirinya dan Britonnium.

Hari dengan cepat berganti malam seiring dengan Merlin yang asik membaca buku dan menulis apa yang ia pelajari. Pustakawan perpustakaan agung itu meminta Merlin untuk cepat pulang karena perpustakaan akan ditutup. Merlin langsung menaruh barang-barangnya ke dalam tas kemudian kembali pulang ke asrama para penyihir.

Saat perjalanan pulang, di pinggir jalan ia melihat seekor anak kucing yang terlantar. Kondisinya buruk sekali. Bulunya kotor, badannya kurus, ekornya-pun terlihat sudah malas untuk bergerak karena kelaparan. Merlin merasa iba dengan kucing itu. Ia ingin membawanya namun asrama tidak mengijinkan binatang untuk masuk ke dalam asrama.

“Ah, aku masukkan saja ke dalam tasku. Mungkin sedikit sihir tambahan akan membantuku.”

Merlin mengeluarkan sihir untuk menghilangkan penampilan kucing itu sehingga kucingnya tidak terlihat dan tidak dapat dirasakan keberadaannya. Kucing itu ditaruh di dalam tasnya. Merlin kemudian berbalik arah dan membeli beberapa kantung makanan kucing dan sabun pembersih untuk merawat kucing itu.

Sesampainya di kamarnya, ia mengeluarkan kucing itu dan menghilangkan sihirnya. Kucing itu terlihat lemas karena belum makan dan dimasukkan ke dalam tasnya cukup lama. Dengan membelai kucing itu dengan tangannya, ia meminta maaf karena telah melakukan itu padanya. Merlin kemudian memandikan kucing itu dan memberikannya makan.

Seusai makan, kucing itu tidur. Namun merlin masih harus mempelajari catatan yang ia buat saat berada di perpustakaan agung. Ia mematikan lampunya dan menyalakan lilin dengan api dari sihirnya. Ia tidak ingin mengganggu kucing itu dengan cahaya lampu yang besar.

Merlin mempelajari kekuatan Amahagane yang bisa memberi kehidupan. Namun ia masih tidak mengerti bagaimana cara Amahagane mengeluarkan kekuatannya. Lagipula sumber yang ia dapatkan hanyalah dari buku sejarah yang sumbernya saja masih belum bisa dipastikan oleh para sejarawan. Seluruh ilmuwan Britonnium masih bingung dengan masalah ini. Pasalnya tidak ada sihir yang bisa memberi kehidupan. Merlin lelah. Karena sudah larut, dia mematikan lilinnya dan beristirahat untuk kelas di esok hari.

“Hey, bangun. Sekarang sudah pagi. Saatnya kau ke akademi sihir sekarang.”

Merlin terbangun oleh suara itu. Suaranya dekat sekali dengan telinganya. Karena masih mengantuk, Merlin hanya melihat sebagian dari sesuatu yang berbicara padanya. Ia melihat seekor kucing yang berbicara padanya.

“Ini pasti mimpi..”

Merlin menggosok-gosok matanya agar bisa melihat dengan jelas apa yang ia lihat sebagai kucing itu. Namun itu memang kucing. Raut mukanya menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kucing itu masih saja tetap berbicara padanya dan memintanya untuk bangun dan beres-beres.

“Kamu kucing kan? Kalau memang benar kucing, memangnya bisa kamu bicara?”

“Ya, aku memang bisa berbicara denganmu. Lalu kenapa dengan kucing yang bisa berbicara? Bukannya manusia berbicara dengan kucing malah akan terlihat lebih aneh?”

Merlin terkejut mendengar perkataan kucing itu. Ia sudah cukup kaget dengan mendengar kucing itu berbicara, namun jika menang debat kusir dengannya itu membuat dia lebih terkejut lagi. Kucing itu turun dari kasurnya dan pindah untuk duduk di meja belajarnya yang tertumpuk banyak buku.

“Oh maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Ingat kucing yang kau pungut kemarin? Itu aku. Panggil aku Lynx.”

Nama itu terdengar cukup aneh baginya. Nama “Lynx” memang bukan nama yang umum bagi kucing peliharaan di Britonnium. Namun Merlin masih saja mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Lynx sambil memintanya untuk pindah ke bagian meja yang tidak ada bukunya. Itu buku pinjaman, katanya.

“Aku bertemu kamu itu bukan sebuah kebetulan. Aku.. anggap saja aku dikirim oleh apa yang kalian kenal sebagai Amahagane.”

Jam sudah menunjukkan waktu untuk segera berangkat ke kelas. Merlin langsung menyudahi percakapannya dan langsung mengangkat tas dan tongkat sihirnya untuk berangkat menuju kelas. Lynx lompat menuju pundaknya. Merlin karena terburu-buru membiarkannya dan langsung pergi bersama Lynx.

Merlin kelelahan karena berlari menuju kelas. Jarak dari asrama dan kelasnya cukup jauh sehingga ia harus berlari. Ia langsung meletakkan tasnya dan duduk di kursi yang disediakan. Sambil nafasnya yang terengap-engap, ia bertanya apa maksudnya kalau Lynx diutus oleh Amahagane.

“Begini. Kau ingat kan ada pertempuran antara Britonnium dan Honoo? Singkat kata, kamu diutus untuk menyelesaikannya.”

Merlin bingung dengan penjelasan Lynx. Namun bertanya lebih lanjutpun tentang diutus itu malah membuang waktunya. Ia melanjutkan pertanyaannya dengan bertanya kenapa harus Merlin yang dipilih, padahal banyak penyihir lain yang lebih hebat darinya.

“Aku sendiri tidak mengerti kenapa. Tapi yang jelas Amahagane memilihmu. Sebentar. Semalam aku lihat kamu sedang mempelajari Amahagane kan?”

Tiba-tiba bel penanda dimulainya pelajaran telah berbunyi. Merlin meminta Lynx untuk melanjutkan bincang-bincangnya setelah seluruh kelas di hari itu selesai karena ia masih harus fokus. Lynx setuju dengan permintaan Merlin dan bersembunyi ke dalam tasnya.

Kelas telah selesai. Kini waktunya istirahat. Merlin belum sarapan dari pagi. Untuk mengisi perutnya yang kosong ia pergi ke kantin sambil mengajak Lynx pergi bersamanya. Lynx naik ke pundak Merlin dan mereka berdua pergi bersama.

Merlin membeli satu potong roti isi, sebotol susu, dan sebuah apel untuk mengganti sarapannya. Merlin memilih ini karena memang ia suka roti isi buatan penjaga kantin. Saat ia hendak menaruh roti isinya di atas meja, tiba-tiba saja teman sebayanya mengambil dengan paksa roti miliknya. Namanya Dracchus. Dia adalah seorang anak bangsawan yang suka jahil terhadap Merlin sejak mereka masih kecil. Dracchus mengambil roti Merlin dengan nada yang menjengkelkan sambil menertawainya.

“Maaf ya aku ambil rotinya!”

Merlin sudah malas meladeninya dan membiarkan dia mengambil rotinya. Lynx, melihat Merlin seperti itu turun dari pundaknya dan hendak membantu Merlin. Merlin langsung menghentikannya dan meminta agak Lynx membiarkannya. Dia bilang dia bisa beli rotinya lagi kalau Dracchus sudah pergi.

“Mungkin ini alasan kenapa Amahagane memilihmu, Merlin.” ucap Lynx dalam hati.

Merlin sudah melahap habis makanan yang ia beli dari penjaga kantin. Penjaga kantin memberikannya roti isi secara cuma-cuma melihat Dracchus mengambil paksa rotinya. Lynx melihat kejadian barusan langsung kehilangan selera makannya karena jijik dengan tingkah laku Dracchus yang jahat.

Waktu jam istirahat masih tersisa cukup lama. Merlin biasanya mengisi waktu tersebut dengan memandangi taman yang berada di seberang kantin itu. Ia duduk di salah satu bangku panjang dekat air mancur di tengah-tengah taman itu. Dia terlihat nyaman sekali. Sesekali ia mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat langit. Ia bermimpi untuk bisa mencari ilmu di luar Britonnium.

“Merlin, kamu bilang kamu suka ilmu pengetahuan kan?” ucap Lynx. Merlin hanya mengangguk sambil menikmati pemandangan langit yang cerah di atas. Senyumnya manis, menunjukkan bahwa ia memang tertarik pada langit dan juga ilmu pengetahuan.

“Aku rasa rasa hausmu akan ilmu pengetahuan tidak akan pernah hilang. Tapi aku yakin dengan kamu dipilih, rasa haus itu akan terisi. Amahagane akan memberimu pengetahuan yang paling penting seluruh sejarah umat manusia di Avalon.”

“Penawaran menarik. Akademi juga akan memberikan tugas akhir kepadaku untuk belajar di lapangan. Lagipula, kenapa tidak?"

Lynx menghela nafas dan duduk di pangkuan Merlin.

“Aku tahu kamu akan berbicara begitu.” L

ynx tidur di pangkuan Merlin. Langit bersinar terang menyelimuti tubuh mereka. Merlin yang masih saja memandangi langit yang cerah. Ia menangkat tangannya ke atas dan menggerakkan jarinya seakan-akan ia ingin meraih sesuatu dari langit itu.

“Ilmu pengetahuan paling penting ya…”

Ia mengepalkan tangannya seakan-akan dia akan meraih apa yang ia inginkan. Mulutnya tersenyum lebar menunjukkan bahwa inilah yang memang ia idam-idamkan selama hidupnya.

Bel masuk kelas sudah berbunyi. Merlin memakai topi sihirnya dan melanjutkan kelasnya untuk mendapatkan tugas akhir kelulusan kelasnya. Dengan yakin dan percaya diri, dia mengenakan jubah sihir dan memegang tongkat sihirnya.

“Mari kita mulai tugasku, Lynx.”

“Maksudmu tugas kita. Baiklah. Ayo kita pergi..”

BACK