Chapter 3 – Angin



Tidak ada yang pernah tahu bagaimana takdir akan merubah hidup seseorang. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana takdir akan merubah nasib seluruh umat manusia. Tidak ada yang pernah tahu siapa yang memberikan takdir itu dan kepada siapa sebuah takdir tertentu jatuh dan dilimpahkan kepadanya.

Di tengah hutan lebat, seorang pria tua sedang mencari ranting dan kayu kering untuk dijadikan kayu bakar. Karena sudah renta, jalannya tertatih-tatih. Untuk membawa kayu-kayu itu saja bapak itu sudah tak kuat. Sampailah dia di sebuah pohon yang ia tandai sebagai arah menuju rumah setelah kegiatannya mencari kayu tersebut.

Sebuah suara tapak kaki mulai terdengar dari belakang. Awalnya si tua tersebut tidak menghiraukannya. Namun suara itu terdengar makin banyak dan makin cepat. Ia mulai mengeluarkan keringat dingin dari tubuhnya. Baju tipis yang ia kenakan mulai basah dan memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya. Dia ketakutan. Ia berlari namun kaki dan badannya sudah tidak kuat. Kakinya tersandung oleh akar besar yang menjalar dari pohon penanda itu. Tersungkur, ia membalikkan badan menghadap sumber suara itu. Dari arah itu, muncul seekor rusa besar yang muncul dengan tiba-tiba.

Rusa itu memiliki badan yang besar dan tanduk yang menjalar ke seluruh arah. Tanduknya besar dan tajam. Rusa itu berlari kencang menuju arah si tua itu seakan ingin menabraknya. Dari kejauhan, ia melihat sesosok lelaki muda yang sedang duduk di salah satu ranting besar pohon penanda rumahnya. Dia hanya memandangi lelaki itu dengan mata memelas. Lelaki muda itu hanya tersenyum dan memejamkan mata seakan-akan dia menghiraukan permintaan iba tersebut.

Namun dengan cepat ia mengambil panah dan sebuah busur yang ia simpan di punggungnya. Dengan menarik kencang tali panahnya, ia membidik rusa besar tersebut. Dia terlihat tenang seakan-akan ia sedang berlatih panah. Dengan yakin ia lepaskan busur tersebut. Busurnya melaju cepat dan menembus jantung rusa itu. Rusanya jatuh dengan sangat keras, namun terlihat tenang di saat-saat terakhirnya.

Lelaki muda itu turun dari pohon dan mengeluarkan sebilah pisau berburu dari pinggangnya. Dengan memperhatikan hewan yang ia panah tadi, dia langsung mengakhiri hidup rusa tersebut. Ini akan mengakhiri hidupnya dengan tenang dan cepat, serta menghormati alam agar alam tidak menderita, pikirnya. Darahnya mengalir dari bekas luka rusa itu dengan cepat, menandakan rusa tersebut sudah tidak bernafas lagi. Hewan tersebut mati dengan tenang tanpa ada rasa sakit yang menemaninya.

“Terimakasih telah menolongku, nak muda. Mau kamu apakan rusa ini?”

“Akan aku ambil kulit dan tanduknya untuk aku jual, dan aku ambil dagingnya untuk aku makan. Kau bisa mengambil sebagian dari daging itu.”

Seusai mengambil seluruh bagian yang ia perlukan dan memberi daging kepada pak tua tersebut, ia langsung pergi meninggalkannya.

“Oh iya. Kalau kau perlu namaku, namaku adalah Dananjaya.”

Matahari tenggelam dan hari berganti malam. Dengan mengambil beberapa ranting dan daun kering, Dananjaya membakarnya untuk dijadikan api memasak daging dan mengeringkan kulitnya. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama Dananjaya memakan daging. Biasanya ia hanya memakan buah-buahan atau nasi pemberian dari desa yang ia kunjungi. Dia terlihat sangat menikmati daging itu. Dagingnya ia lahap habis, hanya tersisa tulang belulang dari binatang yang ia makan tadi. Kenyang dan kelelahan setelah perjalanan jauh, dia mencoba tidur sambil berharap kalau tanduk dan kulitnya bisa ia jual besoknya di sebuah kota yang cukup dekat dari hutan itu.

Namun saat ia hendak memejamkan matanya, seketika ia merasa bahwa ada yang tidak beres. Badannya tidak bisa bergerak. Api dekat dirinya pun terlihat tidak bergerak. Daun berada melayang di bawah pohon. Waktu telah terhenti. Dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Dia pikir ini mungkin hanya bayangannya. Namun ia sendiri tidak yakin bahwa yang ia alami adalah mimpi atau khayalannya.

“Sebuah obor jahat akan memulai semua kehancuran seluruh negeri..”

Dia mendengar sebuah suara. Rasanya seluruh keberadaan suara itu menyelimuti dirinya dan sekitarnya. Dia merasa bahwa suara tersebut berada di seluruh penjuru hutan itu seakan-akan hutan itulah yang berbicara.

“Seluruh negeri akan terbakar oleh api kehancuran, penderitaan dan kebencian.”

Dia mencoba melihat ke semua arah, namun dia tidak menemukan apa-apa. Bingung, ia bertanya kepada siapapun pemilik suara itu.

“Siapa kamu? Kalau kau berani berbicara, menghadaplah dan tunjukkan wujudmu!”

Api unggun kecil itu entah mengapa membesar dan membara panas. Api itu membakar sebagian kulit rusa yang ia dapatkan siang harinya. Dananjaya hanya bisa merasakan kewalahan dari kejadian itu.

“Aku adalah yang kalian sebut sebagai Amahagane. Kamu dipilih untuk menyelamatkan negeri ini.”

Dia bingung. Dia bukanlah siapa-siapa melainkan hanya seorang pengembara. Namun ditunjuk oleh sesuatu yang amat penting di negerinya.

“Kenapa aku?”

Hanya ada jawaban keheningan dari yang berbicara.

“Kamu harus menyelamatkan mereka. Kamu terpilih untuk menyelamatkan mereka..”

Waktu serasa berjalan kembali. Api unggunnya kembali seperti semula. Daunpun mulai berguguran seperti biasa. Dananjaya yang berkeringat mengambil nafas dalam sembari memikirkan apa yang terjadi. Semuanya tak masuk akal baginya. Berhentinya waktu bukanlah perkara yang biasa terjadi di negeri ini.

“Apa kau baik-baik saja, Dananjaya? Kau terlihat pucat sekali. Sungguh mengecewakan dari seorang sepertimu.”

Suara lain tiba-tiba saja muncul dekat telinganya. Dia menjauh dan memutar badannya menuju asal suara itu. Dilihatnya adalah seekor burung hijau yang memiliki bulu yang indah. Nampaknya bukan berasal dari sini, pikirnya. Namun yang lebih membuat ia terkejut adalah burung tersebut bisa berbicara padanya. Ini lebih aneh dari penampakan burung itu sendiri.

“Oh maafkan aku, aku belum memperkenalkan diri. Panggil saja aku.. Bayu. Bukan burung peliharaan dan bukan burung biasa. Bebas dan menghanyutkan seperti angin, angin sudah tertulis pada namaku!”

Bayu memperkenalkan dirinya kepada Dananjaya dengan anggun dan elok seperti burung merak yang membentangkan sayapnya. Dari sayapnya muncul sayup-sayup angin kecil yang sedikit menyegarkan badan Dananjaya.

“Baiklah. Mari kita simpulkan kejadian yang aku alami hari ini bersama, Bayu. Pertama aku membidik seekor rusa, kemudian aku istirahat dan waktu berhenti, aku didatangi oleh sosok aneh yang menyebut dirinya sebagai Amahagane, lalu aku bertemu dengan burung yang bisa berbicara. Sungguh dunia yang aneh.”

“Bukti kalau ada sihir saja sudah aneh dari awal; di luar akal manusia pada umumnya. Harusnya kamu tidak kaget akan kejadian seperti ini. Anggap saja ini adalah sihir, namun kekuatannya jauh lebih besar dan belum pernah dilakukan atau dilihat oleh umat manusia.”

Keduanya langsung akrab satu sama lain seakan mereka memiliki pemikiran yang sama. Mereka masih saja melanjutkan percakapan tadi hingga larut malam. Dananjaya merasa bahwa berbincang dengannya terasa tidak melelahkan. Namun Bayu memaksa agar Dananjaya beristirahat. Katanya besok masih harus pergi ke kota untuk menjual hasil buruannya.

Esok paginya, mereka langsung beranjak menuju kota dekat hutan itu berada. Kotanya berada di bawah kaki gunung, dekat perbatasan negara Bumijaya dan Honoo. Di tengah perjalanan mereka menuju kota itu, mereka kembali berbincang-bincang tentang alasan kenapa Dananjaya dipilih oleh Amahagane untuk menyelamatkan benua Avalon.

“Aku, walaupun bagian dari Amahagane, tidak tahu kenapa harus kamu yang terpilih. Mungkin jawaban paling dasar yang bisa aku berikan padamu adalah memang kamu ditakdirkan.”

“Bayu, menurutku takdir itu seperti angin. Aku yang bukan siapa-siapa ini seperti angin yang hanya bisa menggoyangkan rumput.”

“Kamu lupa kan kalau angin juga dibutuhkan oleh kapal untuk berlayar? Sekecil apapun anginnya, angin akan merubah arah kapal itu berlayar. Kapal yang kita bicarakan ini adalah Avalon, dan angin kecilnya adalah kamu.”

Dananjaya hanya tersenyum manis mendengar jawaban Bayu. Tidak disangka olehnya bahwa burung itu pandai berbicara. Bayu lalu meminta ijin untuk bertengger di bahunya sementara untuk beristirahat. Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan.

Namun sesampainya di sebuah bukit, mereka melihat banyak orang keluar dari gerbang kota dan asap yang muncul dari banyak bangunan di dalam kota itu. Melihat kejadian itu, Dananjaya meminta Bayu untuk mengitari kota dan melihat kondisinya. Dananjaya langsung berlari secepat mungkin ke arah kota itu sembari meninggalkan kulit dan tanduk rusa yang ia bawa. Sudah tidak berharga lagi kalau kotanya akan hancur, pikirnya.

Bayu kembali kepada Dananjaya dan menjelaskan bahwa kotanya sedang diserang oleh penjarah bekas pelarian pasukan Honoo dari sebuah pertempuran beberapa waktu lalu. Dananjaya ingat bahwa beberapa waktu lalu Honoo kalah dalam sebuah pertempuran. Dia berpikir bahwa pasukan yang lari pasti tidak mungkin kembali ke Honoo mengingat peraturan mengenai pasukan yang kabur akan berakhir dengan hukuman mati.

“Sialan. Kalau kalian dari awal tidak siap dengan kekalahan dan akibatnya, lebih baik dari awal tidak usah ikut perang saja!” gumam Dananjaya. Bayu, melihat raut muka Dananjaya yang serius, jadi terbawa suasana. Dia mengibaskan sayapnya ke arah Dananjaya dan membuatnya berlari lebih cepat dari manusia umumnya.

“Anggap saja ini balasan dariku untuk bahumu barusan!”

Sesampainya di gerbang kota, seluruh kota telah terbakar habis oleh api bekas jarahan para bandit. Masih ada beberapa bandit yang sedang asik menjarah dan menyiksa para warga kota. Dengan cepat, ia langsung membidik mereka dengan panahnya. Ia dibantu oleh Bayu yang memberi sedikit elemen anginnya agar panahnya melaju kencang dan tepat sasaran. Busurpun dilepas dan mengenai para bandit itu, mengakhiri hidup mereka.

Dananjaya menyelamatkan para warga yang terjebak di antara kekacuan kota. Mereka dibawa keluar gerbang untuk bersembunyi. Secara tiba-tiba ketua bandit tersebut muncul di depan mereka dengan menunggangi kuda. Ketua bandit tersebut membawa kapak besar di tangan kanannya dan memacu kudanya ke arah Dananjaya, menyerangnya. Tanpa ragu, Dananjaya membidik panahnya langsung ke arah bandit itu, berharap mengenai dirinya dan mengakhiri seluruh kekacauan ini.

“Bayu, tolong bantu aku!”

“Baik, mengerti!”

Saat Dananjaya melepas busurnya, Bayu dengan cepat mengibaskan sayapnya. Ajaibnya, busur itu melaju dengan cepat dan mengenai si ketua bandit, melemparnya jauh ke belakang dari kudanya. Dari bandit itu terdengar suara rintihan kesakitan yang amat keras. Dananjaya mendengar itu dan hanya berkata “Rasakan..”

Malamnya saat mengingat pemandangan itu, Dananjaya kembali teringat oleh perkataan Amahagane padanya akan datangnya obor api kejahatan yang akan menghabisi seluruh umat manusia. Dananjaya mulai berbincang lagi dengan Bayu tentang apa yang ia lihat hari ini. Mendengar apa yang Dananjaya bicarakan, Bayu mulai membuat sajak dari perbincangan mereka.

“Ketika tajamnya pedang dan hujannya busur panah, merekalah korban dari semua kekacauan. Andai diganti rumput dan hujan air, tak akan ada kesedihan dan kesengsaraan.”

“Hei Bayu, kemarin kamu bilang kalau aku dipilih karena aku ditakdirkan, bukan?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Aku memiliki hidup seperti ini, melancong kesana-kemari tanpa arah, aku hanya ingin memiliki pengalaman yang luar biasa. Aku rasa, dari seluruh petualangan yang aku alami, ini akan menjadi yang membantuku meraih itu semua.”

Bayu mendengar itu hanya bisa terdiam membisu. Ini pertama kalinya Dananjaya benar-benar terlihat tertarik dan serius akan suatu hal. Tekadnya bulat. Dia yakin bahwa dia memang harus menjalani semua ini bersama Bayu.

“Baiklah, Bayu. Kalau Amahagane bisa memberikanku pengalaman yang luar biasa, aku rasa seluruh hal tentang menyelamatkan dunia ini tidak terasa apa-apa.”

Mereka berdua tertawa puas. Lelah dengan semua kejadian hari itu, mereka beristirahat. Karena mulai esok hari, takdir mereka akan berubah selamanya. Mereka akan menjadi angin takdir yang akan merubah Avalon, selamanya.

BACK