Chapter 2 – Muram Durja



Chapter 2 – Muram Durja Di tengah malam yang diselimuti oleh kabut, banyak sekali nyala api yang terlihat jauh di padang rumput yang dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi. Api itu adalah api dari tenda pasukan negara Honoo yang akan berperang melawan Britonnium. Setelah mereka lelah melewati sungai besar yang memisahkan kedua negara tersebut, para pasukan negara Honoo beristirahat sembari menikmati makanan dan minuman yang disediakan saat pesta sebelum perang.

Ingin menghindari keramaian dan menenangkan pikirannya, Kaihime menunggangi kudanya menuju puncak salah satu bukit yang memiliki pemandangan indah akan bintang-bintang yang berada di atas maupun di bawah. Sementara Kaihime berkuda menuju bukit itu, kabutnya menutupi pengelihatannya. Matanya menjadi perih akibat kabut tebal itu. Dia berkuda dengan pelan sambil mengingat sedikit tentang masa lalunya.

Kaihime merupakan anak satu-satunya dari raja Kiriyama, penguasa serta ksatria terkuat dari negara Honoo, sebuah negara yang sangat menjunjung tinggi rasa hormat, harga diri, serta kekuasaan. Seperti masyarakatnya, Kaihime dibesarkan dengan cara yang keras dan penuh unsur ksatria. Terlepas dari dia yang seorang wanita, ayahnya sangat mengharapkan anaknya sebagai seorang lelaki tangguh. Tak terima atas takdir yang diberikan oleh kahyangan, Kiriyama membesarkan anaknya sebagai seorang ksatria.

Hari dimana dia lahirpun tak lepas dari kejadian-kejadian yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang. Ibunya meninggal saat melahirkan Kaihime. Saat itu, Kiriyama tidak menunjukan raut muka apapun. Hanya tatapan kosong yang ia tunjukkan saat pemakaman isterinya. Kiriyama tidak pula menggendong anaknya sendiri. Dia ditinggal di dalam sebuah kamar yang besar dan sepi, hanya sebilah pedang yang menemaninya.

Selama hidupnya, Kaihime tidak memiliki teman sejati. Sejak dia disekolahkan di akademi militer negara Honoo, dia hanya menganggap teman-teman kelasnya sebagai sebatas orang yang kebetulan belajar di kelas yang sama. Karena itulah Kaihime merasa kesepian. Teman kelasnya tidak berani berada di dekat Kaihime yang seorang puteri tunggal Kiriyama. Teman sejatinya hanyalah diri dia sendiri. Tak ada yang lain.

Terlepas dari semua itu, Kaihime tetaplah seorang manusia. Terlebih, dia adalah seorang wanita. Dia memiliki sifat dari kedua orang tuanya. Dari ibunya dia mendapatkan sifat hati penyayang dan peduli dengan sesama; dari ayahnya, pemberani dan memiliki hati yang kuat.

Tak lama setelah lulus dari akademi militer, Kaihime dihadapkan pada tantangan besar. Ayahnya, kaisar Kiriyama, mengumumkan rencana ekspedisinya menuju negara-negara yang lain; Britonnium dan Bumijaya. Kaihime awalnya tidak peduli dengan alasannya. Dia seperti tidak mau peduli dengan perang itu namun ia terpaksa karena ayahnya. Namun seiring waktu, dia penasaran.

“Ayahanda, kenapa negara kita akan melakukan ekspansi? Padahal sebelumnya ketiga negara hidup damai” ucapnya.

“Kau bodoh. Kita ini adalah ksatria Honoo. Penguasaan seluruh negeri akan menjadi sebuah kemenangan besar bagi kita. Nama ‘Honoo’ dan ‘Kiriyama’ nantinya akan tercatat di dalam sejarah sebagai sang penakluk.”

“Tapi bukannya merusak keseimbangan akan membangkitkan murka Amahagane?”

Hanya ada kekosongan dari jawaban Kiriyama. Ini semua hanyalah omong kosong mengenai harga diri, pikir Kaihime. Tak puas dengan jawabannya, dia pergi meninggalkan ayahnya. Saat dia dibukakan pintu keluar oleh penjaga, dia berpapasan dengan ajudan sang raja, Akumaru. Melihat raut muka Kaihime yang menunjukkan ketidakpuasan dan ketidaksetujuannya kepada sang raja, Akumaru hanya menunjukkan senyumnya yang sinis. Di balik itu semua, dia memiliki rahasia yang seluas dan sejahat samudera.

“Yang mulia Kiriyama, hambamu Akumaru telah menyiapkan rencana. Semuanya sudah diatur.”

“Bagus, ikut denganku ke ruangan persiapan strategi dan bahas semuanya di sana.”

Kaihime menguping pembicaraan mereka di balik pintu. Kata ‘rencana’ yang diucapkan oleh Akumaru membuat rasa penasaran Kaihime semakin besar. Kaihime membuntuti mereka dan bersembunyi di dalam ruang kosong langit-langit yang memiliki lubang.

“Jadi bagaimana rencananya?”

“Bagaimana kalau kita mengadu Britonnium dan Bumijaya? Mereka memiliki hubungan yang tidak harmonis, bukan? Lalu kita datang dan menunggu mereka berdua menghancurkan dirinya masing-masing. Siapa yang tersisa, itulah yang kita habisi.”

Kaihime kaget mendengar rencana dari Akumaru. Rencana itu terdengar licik baginya. Membiarkan kedua negara saling menghabisi satu sama lain lalu kemudian dimusnahkan bukan rencana yang beradab, pikirnya. Kaihime yang kaget meninggalkan suara hembusan nafas yang keras dari rasa kagetnya. Seluruh isi ruangan, termasuk Kiriyama dan Akumaru, langsung mencari-cari asal suara itu. Kaihime yang ketakutan langsung berlari ke dalam kamarnya.

Kamarnya yang besar dan kosong menjadi tempatnya memikirkan rencana yang jahat itu. Badannya gemetaran. Jalannya pun tidak seimbang karena takut akan akibat buruk yang akan terjadi. Suara benturan keras terdengar dari pintu kamarnya. Sesosok orang berjalan cepat menuju Kaihime dan menamparnya hingga jatuh ke bawah lantai. Sosok itu tak lain adalah ayahnya sendiri sedang ia ditemani oleh Akumaru yang tersenyum dan bersandar ke daun pintu kamar Kaihime.

“Dasar bodoh. Kau seharusnya tidak usah membuntutiku. Kau masih bocah, tak perlu mendengarkan apa yang kami bicarakan. Tak heran kau bergetar mendengarkan rencana Akumaru yang brilian itu. Kau memiliki sifat ibumu yang lembek itu.”

Kamar Kaihime ditinggalkan oleh kemurkaan ayahnya. Dia dihukum untuk ikut dalam peperangan menjadi pimpinan pasukan kelas bawah yang hanya berbekal pedang yang sudah berkarat dan zirah yang sudah usang. Kaihime yang tersungkur di lantai hanya bisa menangis. Ruangannya kembali penuh dengan isak tangis dan teriakan amarahnya kepada ayah dan dirinya sendiri yang tak mampu melakukan apa-apa.

Sembari mengingat kejadian yang tak lama lalu, Kaihime memberhentikan kudanya dan beristirahat di puncak bukit sambil melihat api perkemahan.

“Sekarang ada banyak api dari perkemahan pasukanku. Akan ada berapa banyak api yang tersisa usai hari esok? Akankah pemandangan ini akan bertahan?” pikirnya.

Lelah dengan perjalanan serta semua yang ia telah lalui, ia mencopot baju zirah dan pedang yang ia bawa, kemudian tidur bersandar batu besar yang berada tidak jauh dari tempatnya. Sembari tidur dia memegang erat pedangnya seakan-akan pedang itu adalah gulingnya dan hanya pedangnya saja yang menemani ia tidur.

Kaihime berada di dalam sebuah ruang gelap dan hampa. Dia sendirian. Kaihime memanggil apakah ada seseorang di sana. Tidak ada jawaban, tidak ada kepastian. Yang ia dengar hanyalah suaranya dan suara nafasnya.

Tiba-tiba di sekeliling Kaihime muncul api besar yang panas. Ruangan yang gelap itu berubah menjadi merah membara. Api itu membakar seluruh ruangan itu, namun entah kenapa ruangan itu tetap utuh. Apinya tidak bisa dipadamkan bagaimanapun juga dan memiliki wujud seperti jiwa manusia. Kaihime berkeringat dan ketakutan.

Dia berlari mencari pertolongan. Dia berteriak sampai suaranya habis. Namun hanya suara api yang membara itu yang menjawabnya. Kaihime jatuh tak berdaya. Dia kehilangan seluruh harapannya. Api yang memiliki jiwa manusia itu mendekatinya perlahan dan menyelimuti dirinya seakan-akan mereka meminta pertolongan. Api itu membakar dirinya.

Kaihime terbangun dari tidurnya. Di hadapannya muncul sosok yang menyerupai manusia yang dikelilingi cahaya. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terkunci rapat, badannya kaku gemetaran. Didengarnya hanyalah satu kalimat yang diucap oleh sosok tersebut.

“Itulah yang akan kau lihat kalau kau tidak segera melakukan sesuatu.”

Sosok tersebut menghilang dan digantikan oleh cahaya matahari menembus kabut tebal dan menyelimuti seluruh dirinya. Dia menyadari bahwa hari sudah pagi dan dia harus kembali ke perkemahan. Dia tahu bahwa semuanya hanyalah mimpi belaka, namun dia masih ketakutan dengan semua yang ia lihat dari mimpinya. Pemandangan yang mengerikan itu menghantuinya saat perjalanan pulangnya. Untuk menghilangkan pikiran itu, dia memacu kudanya secepat mungkin.

Sesampainya di perkemahan, ia kembali menuju sekumpulan pasukan yang ia pimpin untuk perang yang sebentar lagi akan dimulai. Di depan mereka, dia tidak bisa mengucapkan kata-kata yang membakar semangat para pasukan yang ia pimpin seperti yang lain. Dia hanya membalikkan badan ke arah mereka dan mengatakan kepada mereka supaya tetap selamat dan kembali kepada keluarganya seusai perang ini.

“Jangan sampai peperangan ini menjadi alasan kalian tidak dapat kembali pulang” katanya.

Di antara pasukan Honoo dan penyihir Britonnium hanya ada kabut tebal yang memisahkan mereka. Ketidakpastian dan keraguan menemani kabut tebal menyelimuti hati seluruh orang yang berada di sana, tak terkecuali Kaihime. Hentakan kaki pasukan Honoo yang berjalan menggetarkan bumi, hati serta jiwa. Gemuruh gendering perang terdengar keras mendebarkan jantung. Semuanya menyatu mengisi hati Kaihime.

Dari seberang terdengar bunyi yang keras. Seluruh pasukan Honoo berhenti menyiapkan tameng untuk melindungi diri mereka dari serangan penyihir Britonnium. Benar saja, hujan bola api turun dari atas langit membakar semua yang dilewatinya. Pelan namun pasti, pasukan Honoo berjalan sambil memegang tamengnya di atas kepala. Seluruh dataran penuh dengan warna merah tameng pasukan Honoo dan terangnya api yang menghujani mereka.

Kabut tebalpun menghilang dan seluruhnya menjadi jelas. Pasukan Honoo maju berlari menyerang penyihir Britonnium yang menunggu di seberang. Namun tiba-tiba para penyihir Britonnium melakukan ritual sihirnya untuk merubah permukaan tanah menjadi parit yang akan menjatuhkan para pasukan Honoo. Seketika pasukan Honoo terjatuh ke dalamnya dan terjebak. Pintu takdir mereka telah tertutup, nasib mereka sudah tidak dapat bisa diubah.

Kaihime bersama pasukan yang dipimpinnya menjadi salah satu yang selamat dari kejadian itu. Seketika Kaihime memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengambil tangga yang cukup lebar dan panjang supaya bisa menyeberangi parit yang dibuat oleh sihir Britonnium. Tak gentar, mereka menyerbu penyihir Britonnium.

Sebagian dari para penyihir mundur untuk menyelamakan diri, sebagian lainnya terperangkap di dalam kawanan pasukan Honoo. Para penyihir yang mundur berkumpul lalu melakukan ritual lainnya. Kaihime merasakan sesuatu yang tidak beres dari mereka. Sesegera mungkin, Kaihime bersama para pasukannya menyerang para penyihir yang berkumpul itu.

Mereka terlambat. Ritual yang bertujuan untuk memanggil makhluk raksasa yang terbuat dari batu itu berhasil. Makhluk raksasa tadi tak sedikit jumlahnya. Barisan pasukan Honoo yang berada di depan hancur disebabkan oleh makhluk tadi. Kaihime berniat untuk menjaga barisan depan, namun tertampar oleh salah satu makhluk raksasa itu. Kaihime berteriak kesakitan, terhempas jatuh jauh dari kawanan pasukannya. Beberapa tulangnya patah. Seketika yang dia lihat hanyalah gelap.

Sesekali Kaihime mendengar teriakan pasukan Honoo yang lari kocar-kacir atau yang merintih kesakitan. Namun Kaihime tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tak sadarkan diri dan seluruh badannya mengalami cedera. Tak lama, pasukan barisan depan hancur dan tak ada yang tersisa. Honoo, pertama kalinya dalam sejarah, kalah dalam sebuah peperangan. Hanya nasib buruk yang menunggu para pasukan yang tak sempat kabur dari pertempuran itu.

“Ukh.. Kepalaku..” rintih Kaihime kesakitan. Dia perlahan membuka matanya dan melihat pemandangan yang tak asing baginya.

“Apa yang terjadi? Kenapa semua ini terjadi?”

Kaihime yang sedang bangkit mengurungkan niatnya untuk berdiri. Dia hanya bisa duduk terpaku dengan pemandangan yang ia lihat. Di sekelilingnya pasukan Honoo yang telah gugur di medan perang. Sekali lagi dia sendirian. Dia menggigit bibirnya untuk menahan air matanya. Namun pada akhirnya ia tidak bisa menahannya. Dia ingin berteriak, namun ia kelelahan.

Jauh di depannya, para penyihir Britonnium sedang merapikan barisan dan bersiap untuk menghabisi sisa-sisa pasukan baris depan Honoo. Mereka memanggil panah es yang tajam untuk menghabisi mereka. Melihat itu, ia mencoba meraih pedangnya dan berdiri melawan mereka.

“Harus.. menyelamatkan.. pasukan..”

“Tidak boleh.. gugur..”

Tak kuat menahan rasa sakitnya, ia terhenti. Dia tidak bisa apa-apa lagi. Hanya kematian yang menunggunya di seberang sana. Seluruh harapannya menghilang. Seketika di dalam pikirannya muncul serpihan-serpihan ingatan masa lalunya. Seperti orang yang akan dijemput oleh ajal, di dalam pikiran Kaihime terlintas ingatannya.

Panah es-pun dilepaskan. Panah-panah itu melaju dengan kencang ke arah Kaihime. Jarak antara dia dengan ajalnya seperti tebal sehelai rambut yang tipis; hanya sedikit. Saat panah es itu menghujam tubuhnya, dia dikelilingi oleh cahaya putih.

Kaihime membuka matanya. Badannya masih terasa sakit, namun sudah mendingan. Dia mencoba berdiri perlahan dan menyadari kalau dia berada di bukit yang sama saat dia beristirahat di malam sebelumnya. Dia memandangi apa yang berada di dataran bawah bukit itu. Yang ia lihat adalah titik-titik kecil berwarna merah seperti semut yang berlari menuju arah belakang, seperti lari ketakutan. Mereka masih saja dihujani oleh bola api buatan sihir Britonnium. Dia menangis melihat pemandangan itu.

“Kamu harus sadar. Kamu harus melakukan sesuatu..”

Dia mendengar suara yang entah dari mana asalnya. Dia mencoba bertanya balik kepadanya mengapa semua ini terjadi dan kenapa harus dia yang mengalaminya.

“Kau adalah orang yang terpilih untuk menyelamatkan mereka. Kau dipilih karena kau pantas.”

Dia masih tak mengerti apa yang dikatakan padanya. Namun perlahan sesosok cahaya muncul berdiri di depannya dan kembali melanjutkan apa yang dia katakan kepada Kaihime.

“Kamu terpilih karena kamu tahu akibat dari semua perbuatan bodoh ini. Kamu dipilih karena kamu memang pantas.”

“Aku adalah perwujudan Amahagane” lanjut cahaya itu.

Kaihime hanya bingung hingga mulutnya terbuka lebar dan raut mukanya menunjukkan kebingungan.

“Aku berikan kepadamu naga yang akan menemanimu dalam tugasmu menyelamatkan dunia. Panggil dia Enryuu.”

Muncul seekor naga merah kecil di bahu kanannya. Kaihime memanggil Enryuu dengan suara yang lirih. Enryuu, saat dipanggil namanya oleh Kaihime, terbang ke depan mukanya dan memberikan isyarat dengan tubuhnya kalau dia akan membantunya dengan sepenuh hati.

“Aku adalah Enryuu, naga kecil yang akan menemanimu dalam seluruh tugasmu. Aku mungkin tidak akan membantu banyak dan akan memakan banyak seluruh bekal yang kamu bawa, tapi aku yakin aku akan bantu sebisaku!”

Kaihime, mendengar ucapan semangat dan bantuan dari Enryuu, tersenyum kecil dan menangis bahagia. Untuk pertama kalinya ia akhirnya bisa memiliki teman yang berada di sisinya. Seketika cahaya terang itu menghilang. Langitpun bersih setelah ditutupi oleh awan hitam. Cahaya matahari sore menerangi cakrawala.

Bersama Enryuu, Kaihime yakin bahwa tugasnya akan terlaksana walaupun akan ada banyak rintangan yang menghadang. Kaihime juga yakin bahwa dia akan melawan ayahnya sendiri dan seluruh rakyat negara Honoo. Namun niatnya sudah bulat. Dengan memegang erat pedangnya dan mengencangkan baju zirahnya, dia menginjakkan langkah pertama untuk menyelamatkan dunia dari kekejaman perang.

BACK